Sin Sensitivity – Kepekaan Terhadap Dosa


Ahad, 13 Oktober 2019. Ba’da Ashar. Masjid Nurul Iman, Blok M Square, lantai 7.

Tidak ada niat untuk mendengar kajian. Karena sedang dalam posisi menjadi ayah siaga. Dan suami siaga. Niatnya hanya menjemput anak yang sedang belajar menjahit di Loyal Craft.

Lagi-lagi niatnya hanya mau sholat Ashar berjamaah di situ. Dan segera balik lagi ke posisi siaga. Tapi petunjuk Allah tetap saja menerobos masuk. Melewati celah waktu yang sempit. Tidak bisa dibendung.

Saya hanya sengaja mendengar kajian itu sebentar. Takut menyalahi peran yang sedang saya mainkan. Takut tidak berbuat adil sama anak dan istri.

Tapi yang sebentar itu sudah cukup menginspirasi.

Kita memang nothing compared to para sahabat. Betapa mulianya mereka. Betapa tingginya ketakwaan mereka.

Ada sahabat yang baca seratus ribu istighfar untuk satu dosa yang dilakukan. Dari 40 dosa yang disadari.

Keteladanan yang luar biasa. Patut ditiru. Rajin menghitung dosa. Merasa takut bahwa dosa-dosa mereka yang sedikit itu tidak Allah ampuni.

Sedangkan saya, kelakuannya sebaliknya. Rajin menghitung yang lain. Terlalu yakin bahwa Allah pasti mengampuni dosa. Tanpa merasa takut, atau sedikit sekali rasa takutnya, sedikit sekali bertanya, akankah dosa-dosa diri ini diampuni.

Lalu saya merasa ada perbedaan besar antara diri ini dengan para sahabat generasi terbaik di zaman Nabi. Aku menjalani kehidupan asal nge-flow. Sementara para sahabat itu punya semacam sin sensitivity. Rasanya mereka punya software yang ter-install dalam diri mereka, yang mampu menjadi sensor untuk melakukan pembacaan dini terhadap sepak terjang mereka sendiri.

Selalu dalam keadaan sadar untuk memindai sekeliling, melakukan early detection, menghindari dosa-dosa baru yang mungkin tercipta. Entah dari ucapan, perilaku, ataupun sesuatu yang lebih halus lagi: deviasi suara hati.

Ya Allah, ampuni dosa-dosa yang telah lalu. Dan bikin kami terjaga untuk tidak membuat dosa yang baru. Dan kalaulah kami terpeleset juga, ringankanlah kami untuk segera beristighfar menjemput ampunan-Mu.

Ditulis oleh Heru Wibowo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s