Apakah Kita Menghargai Ramadan? – Abdelrahman Murphy


Seseorang mendekati saya, dia memberi saya sebuah undangan. Lalu saya lihat undangannya, masya Allah, itu adalah undangan pernikahan. Dan pernikahannya dijadwalkan pada Juni 2018. Dia memberi saya undangan pernikahan lebih dari satu tahun sebelumnya.

Dan Subhanallah, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah betapa senangnya seseorang ini sampai memikirkan dan merencanakan acara dari jauh sebelumnya. Jika Anda pernah menjadi bagian dari persiapan perencanaan pernikahan, hal ini menghabiskan banyak energi, sumber daya, dan waktu Anda. Dan orang ini sudah mulai mempersiapkan perencanaan pernikahan mereka lebih dari setahun sebelumnya.

Dan saya berpikir hal ini mengingatkan saya akan sifat yang indah yang dimiliki para sahabat Nabi. Bukan untuk mempersiapkan pernikahan, tapi untuk menyambut bulan Ramadan. Yang ketika Anda berpikir tentang bulan Ramadan, banyak dari kita, semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengizinkan kita untuk berjumpa dengan bulan Ramadan, kita melihat kalender kita, kita melihat jam tangan kita, dan terkadang kita gagal untuk menyadari sampai sudah terlambat karena Ramadan mendekat dengan sangat cepat, karena malam pertama Tarawih insya Allah ta’ala akan dilaksanakan dua minggu dari hari ini, seperti yang tertera di kalender.

Dan kita berpikir, “Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan Idul Fitri!”

“Rasanya seperti Ramadan baru saja berakhir.”

“Aku masih belum percaya kita akan Tarawih lagi.”

“Buka puasa lagi.”

“Berdoa lagi.”

“Membaca Alquran lagi.”

Dan ketika kita melihat kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad (ﷺ), sama menariknya dan sama gembiranya seperti saudara ini untuk pernikahan anaknya, para sahabat memiliki pandangan yang sangat mirip untuk menyambut bulan Ramadan mereka.

Riwayat mengatakan bahwa setelah bulan Ramadan selesai, para sahabat akan berdoa sebagai bagian dari permohonan harian mereka, doa harian mereka, mereka akan berdoa kepada Allah, “Ya Allah, terimalah Ramadan kami,” selama 6 bulan!

Mereka akan sangat khawatir Ramadan mereka tidak diterima yang sudah mereka habiskan untuk beribadah. 6 bulan ke depan, 108 hari berikutnya memohon kepada Allah, “Ya Allah, terimalah Ramadan kami.”

Dan kebiasaan memohon kepada Allah untuk menerima ibadah mereka ini berasal dari kebiasaan para nabi.

(اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا)

Yaitu ketika kita memohon kepada Allah untuk menerima ibadah kita, permohonan atau permintaan itu melambangkan kerendahan hati kita. Orang tersebut menyadari bahwa Allah memiliki kemampuan untuk menerima amal ibadah jika Dia memilih untuk menerimanya, dan jika Dia menilai amal ibadah yang telah kita lakukan dan memilih untuk tidak menerimanya.

Salah satu guru saya di sekolah dulu berkata, “Kalau kertas kalian ada goresan di dalamnya, lipatan, kerutan, atau apapun, Ibu tidak akan menerimanya.”

Lalu ketika kita berkata, “Lho Bu, kenapa? Tugasnya kan sudah selesai.”

Dia berkata, “Karena ketika kalian melipat kertasnya, atau menggulung kertasnya, itu pertanda kalau kalian tidak peduli dengan tugas kalian.”

“Kalian akan memperlakukannya dengan baik kalau kalian peduli.”

Jadi para sahabat Nabi akan berdoa kepada Allah untuk menerima ibadah mereka. Mengapa? Karena mereka peduli dengan Ramadan mereka. Bukan hanya berasumsi, “Oh, Allah akan menerima ibadahku.”

“Lihat apa yang aku lakukan untuk Allah.”

“30 hari berpuasa. 30 hari beribadah.”

“Wow! Aku orang yang istimewa.”

Tidak. Mereka memiliki kerendahan hati. Dan setelah 6 bulan itu berlalu, mereka akan berdoa:

(اَللّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَان)

“Ya Allah, izinkan kami berjumpa dengan bulan Ramadan.”

“Berilah kami keistimewaan dan keberkahan untuk bisa merasakan Ramadan kembali.”

Dan dengan cara itu, jika Anda lihat dalam 12 bulan kalender, sepanjang tahun, fokus mereka adalah Ramadan. Tidak sehari pun berlalu kecuali mereka memikirkan bulan Ramadan.

Dan hal ini mengingatkan saya akan pernyataan indah dari Ibn Ata’illah. Beliau mengatakan, jika kamu mengambil sekantong emas, atau berlian, atau uang, apa pun yang berharga bagi manusia, jika kamu meletakkannya di tengah lapang sapi, mereka sapi-sapi itu tidak akan tertarik dengan emasmu.

Tapi jika kamu mengambil sekarung rumput atau biji-bijian atau gandum, dan meletakkannya di lapang sapi yang sama, mereka akan gembira dan bergegas menuju karung untuk melihat apa isinya. Tetapi jika kita meletakkan karung rumput yang sama di sini dan berkata, “Rumput gratis. Silakan ambil.”

Kita mungkin akan berakhir dengan jumlah rumput yang sama dengan yang kita miliki di awal. Tapi bayangkan jika kita menaruh sekantong emas yang sama di depan pintu dan berkata, “Emas gratis. Silakan ambil.”

Poin yang beliau utarakan adalah jika Anda tidak melihat sesuatu yang bernilai atau berharga, maka Anda tidak akan menghargainya. Demikian juga fokus dan kegembiraan kita ditentukan oleh apa hal yang kita hargai, bernilai bagi kita. Ketika Anda menghargai sesuatu, Anda merasa senang dengan prospeknya.

Jadi jika kita berpikir tentang bulan Ramadan dan tidak ada perasaan senang dan gembira, pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah apakah kita menghargai bulan Ramadan? Adakah nilai untuk bulan ini bagi kita? Atau Ramadan hanyalah hal tahunan yang biasa kita lakukan?

Para sahabat Nabi, mereka menghargainya. Itulah sebabnya mereka berdoa setiap hari akan bulan Ramadan. Dan doa yang akan kita bicarakan,

(اَللّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَان)

Ada rasa keputusasaan ketika Anda mengerti apa yang mereka ucapkan.

Bukan, “Ya Allah, berilah kami bulan Ramadan, kalau bisa.”

Keputusasaan.

“Ya Allah, jika Engkau tidak memberi Ramadan kepada kami, Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.”

Saat mereka mengangkat tangan, berdoa untuk bulan ini, mereka memikirkan 11 bulan terakhir di mana syaitan telah mempengaruhi dan melatih mereka, serta daftar panjang kekurangan yang mereka miliki dengan hubungan mereka dengan Allah. Dan satu-satunya solusi untuk masalah itu, yang mereka lihat adalah bulan Ramadan.

Saya harus bertanya pada diri saya sendiri dan semua orang di sini harus bertanya pada diri Anda sendiri, sudah berapa banyak kita memohon kepada Allah agar kita dapat berjumpa dengan bulan ini? Bukan karena kenyamanan, bukan karena menantikan buka puasanya atau para qari salat tarawihnya, tetapi karena kita membutuhkan bulan ini untuk memperbaiki diri kita, untuk meluruskan hati kita.

Subtitle Transkrip oleh Darul Arqam Studio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s