Fitnah Membatalkan Puasa – Omar Suleiman


Puasa, shiyam, sebenarnya dibatalkan oleh ghibah dan namiimah, oleh gunjing, dusta dan sebagainya, seperti ia dibatalkan oleh makan dan minum. Ini nyata-nyata membatalkan puasa Anda.

Anda bisa bayangkan pikiran yang terlintas di benak Anda jika Andalah orang yang makan dan minum selama siang hari Ramadan, padahal orang di sekitar Anda berpuasa. Rasanya seperti sama sekali mengabaikan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

Dasar pernyataan ini adalah hadis atau kisah yang terjadi kepada Nabi (ﷺ), dimana ada dua wanita di siang hari Ramadan seperti diriwayatkan oleh ‘Uqbah bin ‘Ammah, mengeluhkan rasa sakit di perut mereka, serta sakit kepala pada saat berpuasa.

Mereka bertanya kepada Nabi (ﷺ) apa yang terjadi, Nabi (ﷺ) menyuruh ‘Uqbah, kata beliau, “Letakkan mangkuk di depan mereka, suruh mereka memuntahkan isi perutnya, biar mereka muntahkan yang ada di dalam tubuhnya.”

Ketika mereka muntahkan, yang keluar mirip daging manusia. Nabi (ﷺ) bersabda, keduanya mengabaikan apa yang dihalalkan Allah, dan sebaliknya mengisi diri mereka dengan yang telah diharamkan Allah.

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman, “(أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا)” (QS. Hujurat ayat 12)

Apakah seseorang dari kalian mau memakan daging dari saudaranya yang telah mati? Allah menjadikan kedua wanita ini sebagai contoh bahwa di bulan Ramadan, subhanallah, mereka bagai telah memakan daging saudara atau saudarinya yang telah mati. Meski mereka sebenarnya sedang berpuasa.

Subhanallah, untuk memaknainya seserius ini sangat penting, dan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) tidak membuat contoh ini,
tanpa alasan, tanpa tujuan. Tapi agar kita melihatnya dan berpikir bahwa, “Saya mungkin tidak makan dan minum dalam arti fisik (sebenarnya), tapi saya memakan daging saudara saya, saya mengkonsumsi hal-hal yang telah diharamkan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), yang bisa membatalkan puasa saya.”

Mayoritas ulama mengatakan, ini termasuk pembatalan spiritual, ini berarti membatalkannya secara spiritual, karena ajr (pahala) secara otomatis berkurang dan secara otomatis dibatalkan oleh dosa. Dalam situasi ini, lidah yang kotor, menghapus semua kemungkinan barakah dan ajr, semua kemungkinan berkah dan amal baik yang akan diperoleh seseorang dari shiyam mereka.

Jadi ini soal cara Anda memperlakukan saudara Anda, saudari Anda, dan juga soal (الجهل), ketidakpedulian, dosa yang Anda paksakan terhadap Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Jika takwa seharusnya menjadikan Anda lebih sadar dan lebih berpengetahuan, dan lebih banyak berpikir tentang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), lalu bagaimana jika seseorang itu melakukan sesuatu seakan tak punya pengetahuan apapun tentang Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).

Kata (جهل) di sini merujuk kepada seseorang yang tidak peduli terhadap Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) seperti yang dikatakan Imam Al Ghazali rahimahullah, “(كل من عصى الله فهو جاهل)”

Jika seseorang tidak mematuhi Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) saat itu mereka sedang berada pada kondisi (جهل), mereka sedang tidak peduli. Karena Anda sama sekali, atau sengaja tidak peduli kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dengan melakukan apa yang dilarangNya, bahkan di luar Ramadan.

Jadi ketika Anda membuat diri Anda melanggar aturan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), dan mengabaikan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dengan dosa itu, bahkan di dalam bulan Ramadan, Anda telah dengan sengaja mengabaikan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى). Anda menempatkan diri dalam posisi tidak peduli.

Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) mengajak Anda untuk menjadi lebih sadar terutama dalam bulan ini Jika jika ketidakpedulian akan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) yang menjadikan Anda berbuat dosa di luar Ramadan, maka ketidakpedulian yang lebih besar, ketidakpedulian yang lebih sengaja lagi, Anda sedang sangat tidak peduli pada Allah dan berbuat dosa, di hari ketika seharusnya Anda menahan diri dari makan dan minum.

Ramadan secara alami membuat Anda lebih sadar akan kondisi Anda secara keseluruhan, akan kondisi fisik dan mental Anda secara keseluruhan, karena Anda sadar dengan kenyataan bahwa Anda sedang puasa. Sehingga Anda benar-benar harus terjun jauh ke dalam ketidakpedulian, untuk mengabaikan Allah saat itu.

Sudah cukup buruk untuk bergunjing dan berdosa di luar Ramadan, meski bisa dikatakan alamiah, setidaknya bagian ‘berbuat dosa’ adalah sifat alami manusia. Namun di dalam bulan Ramadan, artinya Anda benar-benar terjun jauh ke dalam ketidakpedulian itu.

Lalu ketika Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menyaksikan itu, bahwa tujuan berpuasa sama sekali tidak dipenuhi, lalu pahala mana yang akan Anda peroleh dari puasa semacam itu?

Subtitle Transkrip Oleh Darul Arqam Studio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s