[MFA 2019] Petunjuk pada yang Tidak Diketahui – Ragwan Al-Aydrus


Hampir setiap kali akan melakukan perjalanan atau mengikuti kegiatan tertentu, saya selalu berdoa agar Allah menitipkan pelajaran yang bisa saya ambil hikmahnya, baik melalui pengalaman saya sendiri atau orang lain yang saya temui nanti.

Sebenarnya ini adalah kebiasaan guru saya, di mana saya selalu senang mendengarkan kisah-kisahnya setelah beliau kembali dari suatu perjalanan.

Alhamdulillah, kali ini Allah Ta’ala mengabulkan doa saya. Beberapa hari yang lalu saya mengikuti suatu program bimbingan untuk pengurus pesantren seluruh Indonesia. Saya hadir sebagai perwakilan bersama puluhan asatidz dan asatidzah. Saat kegiatan berlangsung, peserta didominasi oleh kaum lelaki, sementara saya dan segelintir peserta wanita yang disapa bu nyai/bu hajah memilih untuk duduk berdampingan, menyadari jumlah kami yang minoritas.

Saya duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai ‘bu hajah’, yang saya duga adalah panggilannya sehari-hari di antara para santri dan warga sekitar yang mengenalnya. Saya menanyakan asal pesantrennya, lalu usia lembaga yang dirintisnya itu. “Alhamdulillah sudah berjalan tujuh tahun” jawabnya. Pertanyaan basa-basi itu tak saya duga adalah awal dari hikmah yang Allah titipkan melalui cerita bu hajah. “Pondok tidak memungut biaya untuk santri. Cukup bayar 300 ribu saja di awal untuk biaya makan, meski begitu pondok tetap menutup kekurangan, karena segitu saja belum cukup” bu hajah melanjutkan. “oh gitu ya bu” saya menanggapi sekenanya, mulai takjub. “Tapi alhamdulillahnya, sekarang itu ada saja bantuan datang, dari mana-mana. Makanan gak pernah kurang. Donatur tetap ada juga. Mungkin karena mereka tahu pesantren kita menggratiskan santri untuk belajar. Sampai-sampai bukannya pesantren yang menerima bantuan kalau Ramadhan itu, malah pesantren yang memberi kepada tetangga-tetangga saking melimpahnya bantuan dari luar”. Mata saya mulai hangat, terharu mendengar kisah bu hajah. Tanpa saya tanyai, beliau terus bercerita mengenai kemudahan-kemudahan yang ia rasakan semenjak mengurus pesantren tersebut. Bukan hanya untuk lembaga, tapi untuk dirinya dan keluarganya. Secara tiba-tiba diangkat sebagai anak oleh pengusaha kaya yang baru dikenal, diberikan keuntungan berlipat yang tidak wajar oleh rekan usahanya, adalah di antara pengalaman bu hajah yang menurutnya tidak masuk akal, namun ia yakini sebagai pertolongan Allah atas niat baiknya untuk menghidupi para santri.

Saya kemudian teringat pada Surah Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Menurut Ustadh Nouman Ali Khan, kata sabiil (jamaknya dalam ayat ini adalah ‘subul’) bermakna jalan kecil yang kita lewati untuk mencapai jalan utama, yang dalam Al-Qur’an disebut ‘shirath’, dalam hal ini Islam adalah shiratal mustaqim (jalan yang lurus) itu. Sabiil ini menurut beliau tidak harus sama. Setiap kita pasti menempuh perjalanan melewati rute yang berbeda. Begitu juga perjalanan kita menuju Allah. Ada yang jalannya cenderung mulus, ada yang harus melewati rute terjal nan menantang.

Namun ketika kita memastikan diri untuk terus mencoba, berjuang, bersungguh-sungguh menuju Allah, meski kita belum melihat hasil usaha kita, selalu ada jalan bagi Allah untuk membimbing kita, menunjuki jalan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Ini sejalan dengan penjelasan Ibn Abi Hatim yang dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir: barangsiapa yang berusaha sungguh-sungguh melakukan suatu kebaikan karena Allah Ta’ala, maka Allah akan membimbing orang tersebut ke jalan-Nya, bermakna, jika ia melakukan menurut apa yang ia ketahui, maka Allah akan membimbingnya kepada apa yang tidak ia ketahui.

Subhanallah!. Betapa janji Allah itu benar. Ini membuat saya merenungi beberapa pengalaman yang saya alami sendiri dan orang lain. Ibu saya pernah berpesan, jika kita berniat untuk berbuat baik, Allah akan terus mengucurkan inspirasi jalan-jalan kebaikan yang lain. Hal itu juga saya alami sendiri. Bagaimana niat untuk mengajak orang mentadabburi ayat-ayat Allah melalui Quran Journaling tak pernah terpikir sebelumnya. Namun saya percaya pada rumus surah Al-Ankabut: 69 di atas. Saya tak pernah merencanakan hal-hal luar biasa, saya hanya sekedar mengikuti ide yang terbersit pada pikiran, jika itu baik, maka akan saya ikuti karena saya yakin itu adalah bimbingan Allah pada apa yang tidak saya ketahui.

Hal ini juga seakan menggambarkan pesan Allah “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar Rahman : 60).

Saya merasakan, juga berdasar apa yang saya saksikan, amal kebaikan itu ibarat pohon yang tumbuh subur. Buahnya senantiasa bisa dicicipi oleh banyak orang, sedangkan bijinya bisa ditanam kembali sehingga manfaatnya terus dapat dirasakan. Dalam Al-Qur’an kerap kita temui Allah menjanjikan balasan kebaikan yang berlipat-lipat, terus-menerus, berbeda dengan perbuatan buruk yang dosanya dipikul oleh si pelaku saja.

Sehingga dengan jaminan tersebut, jangan khawatir akan kehilangan arah. Seperti kisah bu hajah dan keluarganya yang nekat membangun pesantren gratis tadi; selama segala usaha disertai kesungguhan dan niat yang benar, Allah akan selalui membersamai kita melalui pertolongan dan bimbingan-Nya.

 

 

Oleh: Ragwan Al-Aydrus

IG: @creactivitibygwan

 

Sumber kajian :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s