[MFA2019] The Ultimate Gift of Musibah – Maharani Ningrum


-MFA2019- The Ultimate Gift of Musibah - Maharani Ningrum.jpg

Setiap musibah akan menimpa seseorang sebagaimana Allah kehendaki. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa musibah atau musibat berarti hal buruk yang terjadi. Musibat berasal dari kata shaba. Artinya: tepat mengenai sasaran. Maka ketika musibah menimpa seseorang sejatinya tidak perlu lagi ada pertanyaan, “Mengapa ini menimpaku? Mengapa tidak menimpa orang lain? Mengapa terjadinya saat ini?” Allah telah merencanakannya dengan sangat tepat dan sempurna.

Respon yang muncul atas musibah seringkali berada pada dua titik ekstrim.

Pertama, seseorang merasa bahwa musibah terjadi di luar kendalinya. Semua terjadi atas takdir Allah, bukan karena dirinya. Misalnya seorang anak yang tidak lulus ujian mengatakan “Ini adalah takdir Allah, bukan karena usaha yang saya lakukan”. Allah yang disalahkan, “Apapun yang terjadi itu karena Allah. Kiita tidak melakukan apapun. Bukan karena kita.”

Kedua, seseorang merasa bahwa musibah terjadi karena dirinya. Ia menyalahkan dirinya, “Musibah ini terjadi karena saya orang yang tidak baik. Saya telah melakukan kesalahan yang fatal.  Saya melanggar perintah Allah subhanahu wata’ala.” Kadang lingkungan turut mendorong munculnya respon ini. Misalnya orang tua yang menyalahkan anaknya, ”Kamu tahu mengapa itu terjadi? Karena kamu anak yang nakal, karena kamu malas, karena kamu tidak salat, karena ini dan itu, maka nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan menimpakan ini dan itu.” Astaghfirullah.

Lalu bagaimana kita harus memandang musibah diantara kedua pandangan ekstrim tersebut?

Ustadz Nouman menjelaskan, dalam perspektif dunia fisik, penyebab musibah dapat diketahui dengan mudah. Misalnya ketika kita sering makan makanan siap saji yang akhirnya membuat kita  terkena penyakit diabetes dan kolesterol di usia muda. Maka kita tidak bisa menyalahkan Allah. Itu terjadi karena kita tidak mampu mengontrol apa yang kita makan. Sedangkan dalam perspektif dunia moral, penyebab musibah tidak dapat diketahui dengan mudah. Misalnya ketika kita tidak diterima bekerja, kita berpikir bahwa ini karena kita tidak salat subuh. Tentu saja hal ini mungkin benar atau mungkin juga tidak benar. Dalam perspektif dunia moral, sebab akibat berada pada wilayah “mungkin” atau “tidak mungkin”. Yang terpenting adalah selalu berprasangka baik kepada Allah karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Musibah adalah bagian dari rencana Allah karena semuanya terjadi atas izin-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن یُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ یَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ

وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.“ (QS. At-Taghabun : 11)

Ketika musibah datang, kita memerlukan ketenangan hati. Kita meyakini bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja karena Allah telah mengatur itu semua. Itulah yahdi qolbah. Hati kita merasa damai, apapun yang terjadi. Kita tersenyum. Tidak ada hal yang lebih baik di kehidupan dunia ini yang dapat dibandingkan dengan yahdi qolbah. Tak ada yang menandinginya, entah itu kekayaan, popularitas, atau penghargaan dari orang lain. Inilah the ultimate gift of iman, the ultimate gift of musibah.

Surah At-Taghabun ayat 11 adalah salah satu ayat favorit saya. Penjelasan ayat ini saya dengar dari ceramah Ustadz Nouman yang bertajuk Facing Calamity With Iman. Saat itu saya sedang berada di titik kehidupan yang penuh dengan ujian bertubi-tubi; saya mengalami berbagai kesulitan dalam proses penyelesaian studi, saya juga harus menjalani operasi, dan kondisi keuangan yang menipis. Hal ini mendorong tekanan psikis yang kemudian memunculkan berbagai perasaan dan pikiran negatif. Saya merasa tidak percaya diri, takut bertemu dengan teman-teman dan muncul pertanyaan dalam pikiran saya, “Mengapa saya begitu sulit menyelesaikan studi sementara teman-teman yang lain begitu mudahnya? Apakah saya begitu bodoh? Mengapa Allah tiba-tiba memberikan penyakit ini sehingga saya harus menjalani operasi? Mengapa banyak orang di luar sana yang begitu mudahnya mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan sementara saya begitu sulit?”. Kebimbangan hati muncul, menimbang-nimbang “apakah Allah sedang menghukum saya  atau memang sedang menguji agar meningkat derajat saya”.

Saat saya mendengarkan ceramah Ustadz Nouman, hati saya bergetar. Masya Allah. Air mata mengalir tak terbendung. Seketika saya merasakan Allah sedang memeluk saya dengan limpahan kasih sayang yang tak terhingga. Saat itu saya merasa bersyukur dengan berbagai hal yang menimpa saya, karena menjadi jalan bagi saya lebih dekat pada-Nya. Saya meyakini tak ada yang lebih baik dari semua hal yang saya inginkan di dunia ini selain yahdi qolbah, petunjuk dan bimbingan-Nya. Karena hanya petunjuk dan bimbingan-Nya lah yang akan mengantarkan kita kepada jalan yang diridhoi-Nya. Maka dalam setiap doa yang saya lantunkan saya selalu memohon agar senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan-Nya. Selalu.

Ketika kita berada dalam keadaan yang sulit dan kebuntuan, tidak mampu melihat jalan keluar dari permasalahan, yakinlah bahwa situasi ini sebenarnya adalah cara Allah memberi hadiah paling berharga yang tidak pernah bisa kita dapatkan. Inilah cara-Nya membimbing hati kita. Situasi seperti ini adalah saat yang tepat buat kita untuk menemui Allah subhanahu wa ta’ala, berbicara pada-Nya, kembali pada-Nya, dan berdoa: “Ya Allah. Engkau lah Pemilik Rencana Terbaik, tidak ada yang lebih mencintai dan menyayangiku selain daripada-Mu, tidak ada yang lebih mengetahui diriku selain daripada-Mu. Aku tahu situasi ini adalah yang terbaik bagiku, maka tuntunlah aku kepada petunjuk-Mu, aku butuh petunjuk-Mu”.  

Allah seringkali tidak serta-merta mengabulkan permintaan kita. Namun ada satu hal yang Allah jamin akan berikan saat kita memintanya dengan tulus. Satu hal itu adalah bimbingan. Jika Allah memberikan bimbingan-Nya kepada kita maka segala permasalahan akan menemukan solusinya. Segala sesuatu akan tertangani dengan baik.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan musibah yang menimpa kita sebagai jalan untuk kian dekat pada-Nya dengan bimbingan-Nya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita orang yang benar-benar berubah menjadi lebih baik melalui bimbingan-Nya. Aamiin.

 

-Maharani Ningrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s