Setetes Dua Tetes IlmuNya – Tadabbur Al Ikhlas & Al Kahfi 109


Ilmuku tidak banyak. Tidak mungkin banyak. Dan tidak akan pernah banyak. Dibanding ilmu-Nya yang lebih luas dari semua samudera.

Allah melukiskan bahwa kata-kata-Nya adalah bak samudera.

Qul law kaanal-bahru midaadan likalimaati rabbii lanafidal-bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa law ji’naa bimitslihii madadan. (QS Al-Kahfi 18:109)

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

Anda sedang di pantai dan melihat lautan. Anda hanya melihat permukaannya. Dan pemandangan di depan Anda itu sungguh indah.

Ketika Anda diving, makin lama makin dalam, ke arah dasar laut, maka Anda akan menjumpai kehidupan yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya.

Anda sudah selesai diving. Anda sudah kembali ke permukaan. Air lautan itu membasahi seluruh tubuh Anda. Tapi bisakah Anda bilang bahwa Anda sudah merasakan semua tetes air lautan?

Jika Anda diving setiap hari di sepanjang hidup Anda, ada tetes-tetes air yang baru yang membasahi tubuh Anda, bisakah Anda bilang bahwa Anda sudah merasakan semua tetes air lautan?

Pada akhirnya yang tersisa hanyalah setetes dua tetes saja. Bahkan air yang membasahi kita pun akhirnya kembali lagi ke lautan.

Begitu juga saat mempelajari Alquran.

Anda bisa belajar Alquran setiap hari. Tidak cuma membaca, tapi juga menggali kedalamannya. Anda diving juga. Bukan di laut, tapi di samudera ayat-Nya.

Di akhir hidup kita, bisakah kita bilang bahwa kita sudah basah oleh Alquran?

Kita akan meninggal dunia dengan membawa hanya beberapa tetes saja. Menyisakan lautan kebijaksanaan yang tak berujung (endless ocean of wisdom left).

Hikmah Alquran itu tak berujung.
Bimbingan Alquran itu tak berujung.
Nasihat Alquran itu tak berujung.
Mukjizat Alquran itu tak berujung.
Keindahan Alquran itu tak berujung.
Kekuatan Alquran itu tak berujung.
Pengaruh Alquran itu tak berujung.
Kitalah yang berujung.
Kitalah yang akan bertemu dengan penghujung hidup kita di dunia.

Setetes dua tetes ilmu-Nya. Kucelupkan diriku di samudera itu. Mencoba menggenggam sepercik dua percik hikmah. Untuk mengisi dahaga petunjuk di agenda harian hidupku.

Catatan:

Ini adalah cuplikan intro sebelum tadabbur Al-Ikhlas dimulai. Al-Ikhlas adalah sepertiga Al-Qur’an. Dan itu heavy. Bukan main-main. Ustad Nouman merasa perlu untuk mengulangi kembali (reiterate) sebelum masuk ke pembahasan surah yang setara dengan sepertiga Alquran.

Dan penulis tertarik untuk secara khusus mempelajarinya karena setelah mengamati seringnya Al-Ikhlas dibaca di raka’at genap shalat tarawih di beberapa masjid yang penulis ikuti.

I’m watching 1. Surah Al-Ikhlas – A Concise Commentary – http://bit.ly/2FKWtS9

Resume oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s