Keluarga Ramah Ramadan – Abdul Nasir Jangda


Kita akan membahas tentang Ramadan yang ramah keluarga serta beberapa rekomendasi yang telah saya kumpulkan yang ingin saya bagikan hari ini.

Pertama: Sahur dan Iftar (berbuka puasa). Dua waktu yang sangat menggembirakan dalam satu hari. Siapa saja yang berpuasa terutama di musim panas, Anda berpuasa selama 18-19 jam, masya Allah, semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberi kita semua kekuatan dan ketabahan.

Ini sangatlah sulit dan sangat menantang. Makanya orang-orang sangat bersemangat dengan sahur dan berbuka. Keduanya menjadi sangat penting dan memang seharusnya begitu. Keduanya juga merupakan sunnah Nabi (ﷺ). Apa yang biasanya terjadi pada saat sahur dan berbuka? Bagaimana kita sahur dan berbuka?

Saya akan memberi Anda skenario yang sangat khas: Sang Ibu bangun 30 menit sebelumnya, atau 45 menit sebelumnya, atau satu jam sebelum anggota keluarga yang lain. Dan yang Ibu lakukan adalah Ibu turun ke lantai bawah, lalu memasak dan menyiapkan sahur untuk semua anggota keluarga. Kemudian semuanya turun 15 menit sebelum sahur berakhir, masih mengusap wajah mereka, mengucek mata mereka, menyeka air liur dari wajah mereka.

Dan semuanya seperti berjalan merangkak ke bawah, seperti tumpukan saling tumpuk, dan tidak ada yang saling menyapa satu sama lain, tidak ada yang bicara satu sama lain. Mereka mengambil saja makanan yang telah disediakan yang dengan susah payah dimasak sang Ibu selama 45 menit di dapur.

Semuanya makan sahur mereka, mereka bahkan tidak menaruh piring kotor dan membantu hal lainnya, mereka merangkak saja kembali ke kamar mereka untuk berwudhu. Salat tepat di samping tempat tidur mereka, sehingga setelah mereka salam, salam, mereka tinggal berguling dan kembali tidur. Itulah khas sahur kita.

Demikian juga berbuka puasa, yang akhirnya terjadi adalah kita berusaha menyibukkan diri. Semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memaafkan kita. Sungguh bukanlah hal yang pantas dilakukan di bulan Ramadan: menonton TV, bermain video game, melakukan hal-hal semacam ini, mencoba mengisi waktu sampai menjelang berbuka, bagaimanapun caranya.

Sementara itu, Ibu sudah berada di dapur selama 2 jam menyiapkan berbagai menu berbuka untuk seluruh keluarga. Dan sekali lagi, kita muncul 30 detik sebelum waktu berbuka, kemudian duduk, ambil makanan, menyantapnya, kemudian lari, senang kembali ke aktivitas masing-masing.

Maka, ini adalah bagian dari masalahnya. Kita perlu sahur dan berbuka puasa bersama, dan ini rekomendasinya.

1. Persiapkan (sahur dan berbuka) bersama sebagai sebuah keluarga.

Jadikan persiapan sahur dan berbuka menjadi sebuah kegiatan keluarga. Jadi, semua orang turun ke lantai bawah, dan jika ada 4 orang yang mempersiapkan sahur alih-alih disiapkan oleh satu orang, tidak akan memakan waktu 45 menit, bisa hanya menjadi 20 menit saja.

Jadi, seluruh keluarga harus bangun bersama, turun dan siapkan sahur bersama, kemudian makan sahur bersama, lalu bersihkan bersama-sama juga. Karena Ibu akan salat Subuh juga. Ibu ingin salat malam dan membaca Quran dan menghayati Ramadannya juga.

Tidak adil baginya menempatkan semua tanggung jawab padanya. Tetapi jika kita mempersiapkan bersama, makan bersama, kemudian bersihkan bersama, pada dasarnya kita akan menghabiskan satu jam waktu bersama, waktu keluarga yang berkualitas, mengobrol, berbincang bersama, bahkan mungkin berbagi hadis satu sama lain, mungkin berbagi terjemahan atau apa yang kita dengar tentang tafsir dari ceramah tarawih tadi malam bersama.

Jadi ini adalah kesempatan yang sangat bermanfaat. Jadi, saat sahur dan berbuka puasa, persiapkan, makan, dan bersihkan bersama sebagai sebuah keluarga.

2. Salat bersama.

Kita harus salat bersama sebagai keluarga setiap waktunya, tapi terutama di bulan Ramadan. Terutama di bulan Ramadan. Jadi, setiap kali kita salat di rumah, bukannya semua orang salat secara individu, salat sendiri-sendiri. berjamaahlah dan salat bersama sebagai sebuah keluarga.

3. Pelajari bersama beberapa ayat Alquran setiap hari.

Kedengarannya memang sangat berat.

“Maksudmu aku harus punya waktu untuk mempelajari tafsir selama satu jam?”

Bukan, bukan. Pelajari sedikit tentang Alquran. Ambil satu ayat, baca terjemahan ayat tersebut, dan berdiskusilah tentang ayat itu. Jadi, pelajarilah sedikit saja Alquran setiap hari bersama sebagai keluarga di bulan Ramadan.

4. Adakan kompetisi menghafal Alquran di antara keluarga.

Pilihlah satu Surat. Surat Yaasin, Surat Ar-Rahman, Suratul Kahf, Suratul Mulk. Apa saja surat yang Anda pilih. Pilih sebagian ayat atau surat dari Alquran dan katakan, “Kita akan mengadakan kompetisi menghafal Alquran di antara keluarga.”

Kita sangat bersemangat dengan kompetisi Alquran di sekolah, di Masjid, di masyarakat, kita harus mengadakan kompetisi Alquran sendiri di rumah.

Jadi, apa yang akan kita lakukan? Pilih satu Surat, semuanya akan mencoba menghafalnya, siapa saja yang menghafalnya lebih dulu dan dapat membacanya tanpa kesalahan di hadapan seluruh keluarga yang memenangkan kompetisi. Mereka akan mendapatkan hadiah, semua orang akan membelikannya hadiah, bagaimana saja teknisnya, tapi itu membuat seluruh keluarga melakukan sesuatu bersama sebagai sebuah keluarga.

5. Terutama bagi pasangan muda yang sudah menikah, terutama mereka yang memiliki anak kecil.

Tarawih adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk laki-laki dan opsional untuk perempuan. Meskipun demikian, kita juga harus mengerti selain dari teknis fikih Tarawih, ada sesuatu yang lebih besar yang dipertaruhkan. Kita bicara tentang spiritualitas. Kita bicara tentang Ramadan. Kita bicara tentang hubungan kita dengan Allah.

Wanita membutuhkan hal-hal itu seperti halnya laki-laki. Istri membutuhkan hal-hal itu seperti halnya suami. Ibu membutuhkan kerohanian, menghidupkan kembali spiritualitas, hubungan dengan Allah, memperbaharui iman. Bukan hanya sebanyak yang Ayah butuhkan, saya katakan, bahkan lebih banyak dari para Ayah.

Karena saya tahu peran vital yang dimainkan Ibu saya dalam hidup dan tarbiyah saya. Saya selalu memberitahu orang-orang, saya belajar tentang iman, saya belajar bagaimana beriman dari Ibu saya. Ibu memiliki dampak besar pada anak-anak mereka.

Jadi, istri kita, saudari kita, dan terutama Ibu dari anak-anak kita juga harus mendapatkan Ramadan dan memperbaiki hubungan mereka di bulan Ramadan dengan Allah. Untuk alasan itu, rekomendasi saya adalah ini:

Jika Anda punya anak kecil dan Anda tidak bisa membawa mereka saat Tarawih, bukan hanya karena masalah gaduh atau bisingnya, tapi yang saya bicarakan adalah saya tahu anak-anak saya punya jam tidur. Mereka secara fisik tidak bisa terjaga melewati waktu tertentu. Mereka masih bayi. Jadi, anak-anak tidur.

Sekarang, ada yang harus tinggal di rumah bersama anak-anak, dan ada yang harus pergi untuk salat Tarawih, Jadi, yang saya rekomendasikan adalah orang tua bergiliran, tinggal bersama anak-anak di rumah dan menghadiri salat Tarawih.

Bahkan jika tidak setiap hari, seminggu sekali, dua kali seminggu, apa pun kondisinya, apa pun yang Anda bisa kelola. Ayah harus sedikit berkorban. Salat Tarawih juga sunnah untuk dikerjakan di rumah.

Jika sang Ibu, istrimu akan berkumpul dengan teman-temannya, pergi ke salat Tarawih, salat Tarawih berjamaah, mendengarkan dars (pelajaran), mendengarkan khatira (ceramah pendek), mendapatkan sedikit dorongan spiritual dan dorongan iman, fasilitasilah dia.

Subtitle/Transkrip oleh Darul Arqam Studio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s