Resep Ramadan Muhammad Ali – Omar Suleiman


Ada sebuah nasihat dari saudara kita Muhammad Ali, semoga Allah mengampuninya. Suatu ketika dia ditanya, “Seperti apa Anda ingin dikenang?”

“Apa yang ingin Anda dengar dari orang lain tentang Anda, setelah nanti Anda tiada?”

Dia menjawab, “Aku ingin mereka berkata bahwa Ali mengambil beberapa cangkir cinta, – yang kita semua butuhkan dalam bulan Ramadan – cintanya Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) dan cinta terhadap sesama, untuk membersihkan hati kita dari manusia, untuk melenyapkan rasa dongkol, sehingga hati kita bisa difokuskan kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى), karenanya kita disuruh menghilangkan rasa dongkol.

Katanya, dia mengambil satu sendok makan kesabaran, dan Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) menyebut shiyam di dalam Alquran, Dia menyebut puasa sebagai kesabaran, (وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ) (QS. Al Baqarah: 45)

Carilah kedekatan kepada Allah, dengan sabar dan salat. Sesendok teh kedermawanan. Ramadan adalah bulan sedekah. Ia mengajari kita memberi, meski kita merasa kurang nyaman. Kita diberondong oleh para penggalang dana demi kebaikan kita sendiri. Untuk memutuskan cinta kita pada dunia, seraya kita belajar bahwa kebahagiaan bukan berasal darinya, karena kita menemukan ketenangan yang berbeda di dalam bulan Ramadan.

Setengah liter kebaikan. (‫تبسمك بوجه اخيك صدقة‬‎) Tersenyum dihadapan saudaramu adalah sedekah. Salah satu hal terindah yang bisa kita peroleh dari bulan ini, resep Ramadan, adalah saat-saat manis ketika sahur dan iftar dengan satu sama lainnya.

Lelucon yang kita lemparkan kepada satu sama lainnya, adalah halal, ini sunnah dari Nabi (ﷺ). Satu liter gelak tawa. Berapa banyak gelak tawa yang telah Anda bagi dengan saudara dan saudari Anda pada bulan ini?

Berapa banyak momen spesial yang Anda peroleh Ramadan ini? Berapa banyak orang yang akan Anda kunjungi selepas salat dan Anda peluk setelah khutbah id ini, karena sebelumnya Anda dan mereka telah melalui sesuatu yang spesial bersama. Mengenang masa bahagia ini.

Masjid ini akan dipenuhi gelak tawa, insya Allah ta’ala setelah khutbah ini. Masjid memang seharusnya dipenuhi dengan senyum dan gelak tawa, ini tidak terbatas dalam bulan Ramadan saja, gembira di dalam masjid itu halal. Tertawa di dalam masjid itu halal. Tersenyum di dalam masjid itu halal. Mereka sering melakukannya di masa Nabi (ﷺ).

Namun apa yang dimaksud dengan tawa yang tidak sehat? Kata Nabi (ﷺ), tawa yang tidak sehat adalah yang menyebabkan kita lupa realita keberadaan kita, dan realita dunia di sekitar kita, jadi seliter gelak tawa, namun disertai sejumput kepedulian.

Kita masih punya empati. Kita masih memikirkan orang lain. Lalu Ali mencampur keikhlasan dengan kebahagiaan dan ditambahkannya banyak keyakinan, lalu diaduknya dengan sempurna. Kemudian disebarkannya resep itu selama hidupnya. Disajikannya kepada setiap orang yang membutuhkan yang ditemuinya.

Begitulah resep Ramadan resep Muhammad Ali, resep Nabi (ﷺ). Mari kita jadikan resep ini kebiasaan di dalam hidup kita.

Transkrip oleh Darul Arqam Studio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s