Independence Month – Heru Wibowo


Islam adalah pemulihan kembali (restoration) dari warisan (legacy) Ibrahim ‘alayhis salam. Kita bukan kaum yang pertama yang diberi amanah untuk menjunjung tinggi (uphold) warisan ini. Sudah pernah ada kaum yang diberi amanah ini. Siapa mereka? Bani Israil. Dan Bani Israil gagal secara menyedihkan (miserably).

Ketika Islam datang, sebenarnya banyak pemimpin Bani Israil yang segera mengenali bahwa ini adalah Jibril yang sama yang pernah membawa pesan ke Nabi mereka. Tapi kesombongan membuat mereka tidak mau menerimanya.

Saya ingin Anda memikirkannya dari sudut pandang mereka. Mereka tidak menolak bahwa Nabi adalah seorang Nabi. Maksudnya, menerima seorang Nabi is okay. Mereka cuma tidak suka dengan pemimpin yang baru (new imam). Mereka tidak suka ‘orang’-nya. Bukan ‘Nabi’-nya. Mereka ingin tampuk kepemimpinan itu jatuh ke tangan kaum mereka sendiri.

Jadi dari lubuk hati yang paling dalam (deep down inside) mereka sesungguhnya menerima, tapi mereka tidak ingin menampakkannya (they don’t want to let it out).

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, di surah ini, menerima turunnya ayat demi ayat dari langit, dan mereka memonitor itu. Mereka mengamati bahwa Nabi masih beribadah seperti cara mereka beribadah. Masih berpuasa di hari yang sama. Berarti Tuhan masih mencintai mereka. Jika tidak, pasti ajarannya sudah beda dong.

Allah bilang ke Rasulullah, “Salatmu menghadap Ka’bah sekarang.” Kaum Yahudi jadi tersinggung (the Jews tribe got offended). Reaksi mereka, “Maa wallaahum ‘an qiblatihim?” “Hey, ada apa ini? Apa yang kalian lakukan? Kenapa arah kiblatnya beda?

Allah menyiratkan kepada mereka, “Ka’bah adalah ‘ibukota’ yang dibangun oleh Nabi Ibrahim. Jika kamu mau sungguh-sungguh loyal sama kakek moyang kamu Ibrahim, kamu juga harus menghadap Ka’bah!

Sebelumnya ibukotanya adalah Yerusalem. Sekarang ibukotanya pindah ke Ka’bah.

Lalu soal puasa. Dulu Rasulullah berpuasa di hari-hari yang sama dengan hari-hari mereka berpuasa. Tapi Allah sekarang menegaskan kepada Rasulullah, “Kamu akan berpuasa di bulan kamu sendiri, Ramadan. Karena kamu punya ‘konstitusi’ yang baru, yaitu Alquran.”

Konstitusi yang baru diresmikan (inaugurated) di hari kemerdekaan (independence day). Alquran juga diresmikan. Bukan di hari kemerdekaan tapi di ‘bulan’ kemerdekaan (independence ‘month’).

Ibukota yang baru. Konstitusi yang baru. Bulan perayaan yang baru (a new celebration month). Ini semua adalah identitas muslim yang baru. Allah telah menganugerahi umat Islam sebuah identitas yang beda (distinct identity).

Ramadan adalah tentang identitas muslim sebagai umat yang baru.

Bahasa Alquran begitu presisi. Di ayat ini Allah tidak serta merta bilang, “Berpuasalah di bulan Ramadan.” Tapi “Siapapun yang menyaksikan bulan Ramadan, maka berpuasalah.” Fa man syahida minkumusysyahro falyashumhu. Bisa menyaksikan datangnya bulan Ramadan itu saja sudah merupakan sebuah hadiah (grant). Maka kita semua berpuasa di bulan ini. Karena kita tidak ingin menyia-nyiakan hadiah dari Allah itu.

I’m watching 066. Al-Baqarah (Ayah 184-186) – A Deeper Look http://bit.ly/2uoCq3p

Resume oleh Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s