[MFA2019] Memotivasi Anak-anak Kita untuk Mencintai Al-Qur’an – Setyaningsih


Dalam sebuah video Ustad Nouman Ali Khan yang bertajuk “Wanting Guidance for Our Beloved Ones “, disampaikan bahwa kita mungkin pernah menjumpai fenomena anak-anak yang sejak kecilnya nampak sudah lurus. Mereka selalu mengerjakan sholat, hafalan mereka sudah banyak, mereka sudah mengenakan jilbab sejak kecil.

Tapi ketika mereka beranjak remaja, atau mungkin mereka kuliah dan pergi merantau, tiba-tiba mereka berubah: menjadi lebih pemberontak, mulai mengenal lawan jenis sehingga ada yang berpacaran, mulai malas menghafal Al-Qur’an, dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua untuk menyikapi hal ini? Apa yang akan kita katakan kepada anak-anak kita?

Dalam QS As-Sajdah 32: 8-9 Allah berfirman

ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَـٰلَةࣲ مِّن مَّاۤءࣲ مَّهِینࣲ

ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِیهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِیلࣰا مَّا تَشۡكُرُونَ

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

Anak-anak kita sebenarnya sudah tahu bahwa tujuan hidup adalah untuk beribadah. Dan ada konsekuensi hari akhir. Tapi sayang, meskipun mereka tahu, itu tidak menarik!

Anak-anak kita juga sudah tahu bahwa manusia berasal dari tanah. Sesuatu yang tidak berarti. Lalu Allah memberikan kemuliaan dengan meniupkan ruh ke dalamnya. Tapi itu biasa saja buat mereka. Allah memuliakan mereka, tapi mereka tidak bisa merasakan dan melihatnya. Allah mengomentari kondisi ini dengan “sangat sedikitnya rasa terima kasih (bersyukur) manusia.”

Semua pengertian di atas tidak sanggup membakar (memotivasi) hati (fuad) anak-anak kita. Pendengaran dan penglihatan bukanlah perut yang bisa dipuaskan dengan makanan. Pendengaran dan penglihatan adalah masalah hati. Apa yang didengar dan dilihat menjadi makanan atau konsumsi hati.

Sudah menjadi fitrah manusia menyukai kemuliaan karena min ruukhihi. Ini adalah bentuk jaar-majruur dan mudof-mudof ilaih yang terangkai dalam satu fragmen, yang artinya from Rukh of His. Semua yang kepunyaan Allah selalu mulia dan menyukai kemuliaan.

Masalahnya, manusia bisa dengan cepat merasakan pemuliaan dengan pujian, kekaguman dan pengakuan dari manusia. Itu karena pemuliaan itu terdengar oleh pendengaran dan terlihat oleh pandangan. Namun pemuliaan Allah berbeda dengan pemuliaan makhluk. Itulah yang membuat manusia sedikit sekali bersyukur dan merasa tidak tertarik dengan pemuliaan dari Allah.

Belajar dari sini, aku membutuhkan pemahaman ini untuk mendekatkan anak-anak dan mendorong mereka untuk mencintai Al-Qur’an. Aplikasinya kurang lebih seperti ini:

1. Anakku, kau tampak keren jika seusiamu kau bisa berbahasa Arab dan memahami Al-Qur’an.

2. Mencari teman yang pintar bermain gitar dan game itu biasa. Mereka berlomba-lomba belajar gitar, berkompetisi dalam game. Tapi itu membuat mereka menjadi sama. Sesuatu yang sama itu tidak keren. Jadilah berbeda, karena berbeda itu luar biasa!

3. Anakku, apakah kau tahu apa bagian yang paling menarik dari manusia? Itu adalah “their brain and their akhlaq“. Kecerdasan mereka dan akhlak mereka. Orang yang berilmu dan berakhlak. Analoginya seperti ini:

3.1 dekat dengan orang pintar itu menyenangkan, tapi jika dia jahat, itu bisa menjadi malapetaka. Jika kita pintar, tapi akhlaq kita buruk, kita bisa membahayakan orang lain.

3.2 dekat dengan orang baik itu sangat disyukuri, tapi jika bodoh dia bisa ditipu. Kasihan sekali. Jika kita baik, tapi kita bodoh, kita bisa dengan mudah ditipu orang lain.

3.3 dekat dengan lelaki tampan atau wanita cantik itu pengalaman yang luar biasa, tapi cantik dan tampan itu bisa luntur, tidak selamanya.

3.4 dekat dengan lelaki tampan atau wanita cantik itu sesuatu yang luar biasa, tapi jika dia jahat atau bodoh, atau jahat dan bodoh, mereka tidak tampak tampan dan cantik lagi kan?

Sama halnya dengan kita, kita berupaya terlihat cantik, populer, menarik, bisa main musik, canggih main game, kita berusaha menyesuaikan diri dan menjadi yang terbaik di mata mereka. Tapi jika mereka tahu kita sebenarnya jahat, tidak peduli dengan orang tua dan keluarga, apakah kita akan tetap tampak cantik atau tampan di mata mereka? Sepertinya tidak, sebab kita lebih tampak memuakkan. Bayangkan jika itu adalah suami atau istrimu? Maka berilmu dan berakhlak adalah bagian paling menarik dari manusia, bahkan di mata Allah. Menjadi berilmu dan berakhlak bisa kita dapatkan sekaligus dalam belajar dan mengamalkan Al-Qur’an.

Kita harus mengikuti alam berpikir mereka. Bukan berdiri dan menentang mereka. Ustad Nouman menyampaikan bahwa kita perlu mendengarkan mereka dengan hati kit. Lembutkan hati kita agar kita bisa memahami mereka, dan mereka bisa merasakan itu dari kita.

Cobaan anak bukan hal yang baru. Sudah ada sejak jaman Nabi Nuh dan Nabi Ya’qub. Para Nabi mendidik sehingga di detik terakhir pun mereka masih memohonkan hidayah bagi putra-putra mereka. Teruslah berjuang mengingatkan anak-anak kita.

Mengingatkan anak-anak kita, artinya kita hanyalah penyampai pesan. Kita tidak bisa mengontrol anak-anak kita untuk menjadi apa yang kita mau. Kita hanya mengajak. Kita tidak berorientasi pada hasil. Artinya kita tidak pernah menyerah dengan cinta kita kepada anak-anak untuk terus mengingatkan dan mengajak mereka dalam kebaikan dan kebenaran.

Cinta itu adalah tidak menyerah dengan apa yang kita cintai. Setiap kali kita kecewa, patah, jatuh dengan buah hati atau siapapun yang kita cintai, setiap kali itu juga kita bangkit!

Cinta kita harus menjadi mata dan telinga bagi mereka. Kita bisa melihat dan merasakan apa yang mereka suka, dan memberikan arahan tentang bagaimana mereka seharusnya melihat dunia.

Tidak ada materi yang kita bawa mati. Tidak juga orang yang kita cintai. Dan tidak pula rasa cinta kita di dunia.

Jika ini tentang amalan, maka cara kita mencintai lah yang dibawa mati!

Cinta berarti setiap kali kamu jatuh, setiap kali itu juga kamu bangkit!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s