Ayat (MFA 2019 Is Back!) – Heru Wibowo


Kita biasa menulisnya begitu. Ayat. Atau, kalo mau sedikit mengikuti kaidah ilmu tajwid, kita bisa menulisnya: aayaat. Karena, baik alif maupun ya, panjangnya dua harakat. Sebagaimana yang terdapat di akhir surah Al-Baqarah 164.

Ustadz Nouman secara khusus mengupas kata aayaat ini, di Bayyinah TV. Saat mengkaji Al-Baqarah 164.

***

Kata ayat punya beberapa arti.

Pertama, makna (meaning). Jadi, arti pertama dari kata aayaat adalah ‘arti’ itu sendiri.

Kedua, tanda (sign). Simbol atas sesuatu. Seperti rambu-rambu di jalan tol. Sehingga pengguna jalan tol yang akan ke Jakarta tidak nyasar ke Bogor. Atau malah ke Bandung.

Ketiga, memiliki arah (to have direction).

Keempat, barang berharga (valuable goods). Ada kalimat yang cukup masyhur dalam bahasa Arab: “Kharajal qawmu bi aayaatihim.”

Cerita singkat berikut semoga membantu untuk memahami kalimat ini lebih baik.

***

Bangsa Arab jaman old suka bepergian di gurun. Tidak cuma melewati gurun, mereka juga bermalam di gurun. Mendirikan tenda. Meski hanya satu malam. Makan malam bareng. Sedikit bakar-bakar. Barbekyu di luar tanda. Pagi harinya mereka berkemas. Mereka tentu saja pergi tanpa membawa abu (ashes). Mereka tentu saja pergi tanpa membawa sisa bakar-bakar malam hari sebelumnya. Mereka tinggalkan abu bersama tulang-belulang sisa.

Sehingga, setelah mereka pergi dari situ, ketika ada orang lain yang melewati tempat itu dan melihat apa yang tertinggal di situ, orang itu berkata, “Kharajal qawmu bi ayaatihim.” Mereka sudah pergi dengan membawa barang berharga. Yang tertinggal adalah abu dan tulang-belulang. Yang tersisa adalah sampah (junk). Sudah tidak berharga lagi.

Saat mereka packing, orang-orang yang sudah meninggalkan gurun itu tidak membawa abu dan tulang-belulang. Yang dibawa adalah aayaat. Yaitu barang-barang yang masih berharga.

***

Ketika Allah menyebut sesuatu dengan sebutan aayaat, maka sesuatu itu punya makna. Sesuatu itu bernilai. Sesuatu itu punya arah. Sesuatu itu merupakan sebuah tanda.

Tanda (sign) tidak sama dengan tujuan (destination). Aayaat mengarahkan kita ke suatu tujuan. Aayaat membimbing kita ke suatu tempat (somewhere).

Betapa mengagumkan ketika kita melihat ini dari sudut pandang filosofis. Setiap pengalaman manusia adalah aayaat. Sejarah (history) adalah aayaat. Alam semesta secara fisik tersusun dari aayaat. Wahyu (revelation) itu sendiri adalah aayaat. Tidak ada satupun pengalaman manusia yang bukan aayaat.

Apa arti itu semua?

Buat seorang muslim, itu berarti, segala sesuatu yang kita alami, punya arti (meaning), tujuan (purpose), dan arah (direction).

***

Alquran tidak bilang bahwa gunung itu aayaat. Yang dibilang adalah, ada aayaat di dalam gunung itu. Allah tidak bilang langit adalah aayaat. Yang dibilang adalah, di dalam langit itu ada aayaat.

Mari kita bedakan dua pernyataan berikut.

Dinding ini berharga.

Di balik dinding ini, ada sesuatu yang berharga.

Kedua pernyataan tersebut tidak sama.

Apa artinya?

Dibutuhkan upaya dari manusia, untuk membuka tabir itu, untuk menggali lebih dalam, supaya kita bisa menemukan aayaat yang ada di balik itu.

Setiap yang kita alami dalam hidup kita, seharusnya membawa kita untuk memahami apa yang ada di balik realitas itu. Menyelami makna yang tersembunyi di balik itu semua. Dan menyadari betapa luar biasa pedulinya Allah sama kita.

***

Bayyinah TV > Quran > A Deeper Look > Al-Baqarah > Al-Baqarah (Continued) > 059. Al-Baqarah (Ayah 159-164) – A Deeper Look

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s