Perjuangan Tulus Karena Allah – Nouman Ali Khan


Banyak di antara kita yang punya pekerjaan ingat ketika dulu datang wawancara. Seringkali saat Anda melamar pekerjaan, berharap bisa memperoleh pekerjaan meski resume Anda tidak terlalu mengesankan.

Anda masuk ke ruang wawancara, dan mereka mulai menjelaskan apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan ini. Anda harus punya ilmu tentang akunting atau manajemen, atau mungkin pekerjaannya terkait teknik, jadi Anda harus tahu bahasa program ini dan itu, atau protokol ini, dan sebagainya.

Subtitle Inggris: Ya
Subtitle Indonesia: Ya
Klik caption untuk mengaktifkannya.

Mereka mulai mendaftar semua persyaratan, dan Anda duduk di sana sementara wawancara berlangsung berpikir, “Saya tidak tahu apa mereka mengambil resume yang keliru, karena satu-satunya keahlian teknik yang saya miliki adalah ‘Google’.”

“Sekarang mereka bilang saya harus tahu bahasa program ini dan itu, dan punya pengalaman ‘coding’ serta manajemen sebanyak ini.”

Sementara pewawancara menjelaskan semua deskripsi pekerjaan itu, Anda duduk di sana merasa malu, “Sebaiknya dia membiarkan saya pergi sekarang, daripada terus menghina saya.”

Setelah selesai menjelaskan semua ini, dan jelas bahwa Anda tidak masuk kualifikasi, dia menatap Anda dan berkata, “Selamat! Anda mulai bekerja besok!”

Reaksi pertama Anda adalah syok, “Bagaimana mungkin saya diterima? Saya bahkan tidak masuk kualifikasi.”

Yang kedua, “Bahkan jika saya diterima pun, jika saya dipilih untuk pekerjaan ini, ini bukanlah ucapan selamat, besok ketika saya masuk kantor, saya tidak tahu apa yang akan saya kerjakan!”

“Mereka akan tahu bahwa saya sama sekali tidak cocok untuk pekerjaan ini, akan sangat memalukan.”

“Tidak mungkin saya bisa mempelajari semua ini!”

Jadi di awal ayat ini Allah ‘azza wa jalla tidak hanya berkata, “Wa jaahidu fillaah. Berusahalah! Tanpa tujuan lain dihadapanmu, berjuanglah tanpa alasan lain kecuali Allah sendiri!”

“Berusahalah demi Islam!”

Tidak hanya itu. Dia berkata, “Haqqa jihaadihi, seakan pantas bagiNya.”

Mari kita pahami frasa ‘seakan Dia pantas bagi usaha atau perjuangan yang dilakukan bagiNya.’

Renungkan ini, ketika Anda dan saya salat, ketika kita salat, sudahkah kita salat selayaknya bagi Allah? Atau ketika kita bersyukur kepada Allah, sudahkah kita bersyukur hingga tingkatan yang layak bagi Allah? Atau ketika kita mematuhi atau mengingat Allah, sudahkah kita mengingat Allah selayaknya?

Kenyataannya, tidak peduli berapa seringnya kita melakukannya, kita tidak pernah bisa masuk kualifikasi telah memenuhi hakNya. Kita akan selalu gagal. Sebenarnya salat saya tidak akan pernah cukup layak bagi Allah. Pada akhirnya tetap akan banyak kekeliruannya, akan banyak kekurangannya, pikiran saya mengembara.

Hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu apakah itu cukup baik, sehingga pada akhir salat kita harus memohon kepadaNya, “Rabbana taqabbal minna, Tuhan kami, terimalah dari kami.”

Apapun yang kita campur adukkan dalam salat kita, semoga itu cukup baik. Namun tidak mungkin Anda dan saya bisa melakukan sesuatu yang layak bagi Allah. Itu tidak mungkin!

Jadi mengapa Allah memberi kita uraian pekerjaan yang tidak mungkin dilaksanakan?

‘Wa jaahidu fillaahi haqqa jihaadihi,’ berjuanglah tanpa niat lain kecuali Allah saja, seakan perjuangan itu layak bagiNya. Tidak mungkin kita bisa membenarkan usaha kita tersebut. Itu sangat tidak mungkin!

Sekarang setelah saya jelaskan bahwa itu sangat tidak mungkin, sebelum berlanjut, ada satu frasa lagi yang butuh perhatian khusus.

Allah berkata, “Fillaah, fillah,” yang -tanpa bertele-tele- pada dasarnya menganjurkan bahwa ketika Anda melakukan suatu usaha bagi Islam, contohnya ketika Anda mencoba menjauhi ketidaktaatan kepada Allah, Anda ingin menjauhi yang haram, tak peduli betapa menggiurkannya, tak peduli betapa kuat daya tariknya.

Mungkin Anda menghasilkan uang yang banyak, tapi uang yang sumbernya tidak halal. Dan sangat sulit untuk berhenti, karena Anda punya cicilan rumah, biaya sekolah anak, banyak hal terkait dengannya, sehingga sangat menggoda untuk diteruskan.

Mungkin salah satu pemuda atau pemudi ini sedang pacaran dan mereka tergoda. Mereka seperti ditarik ke dalam hubungan tersebut dan tidak mampu melepaskan diri. Mereka berusaha untuk lepas darinya dan kembali taat kepada Allah adalah usaha yang sangat sulit bagi mereka.

Karena setan selalu menarik mereka, menarik mereka menjauh. Bahkan jika mereka bisa kembali sesaat, godaan itu muncul kembali. Penting untuk menentukan kapan godaan ini muncul, bahwa tekanan yang diberikan keluarga Anda, atau seseorang akan mencoba mengingatkan Anda, “Jangan lakukan ini!”

Atau orang lain akan berkata, “Aku ini temanmu, maksudku baik. Kamu tidak boleh melakukan hal ini.”

Ketika kita berusaha menekan sesama untuk melakukan hal yang benar, tak satupun yang akan berhasil. Tidak satupun akan berhasil. Saat manusia akan jatuh ke dalam tipu daya setan, maka satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka adalah hubungannya dengan Allah, itulah satu-satunya.

Anda tidak bisa menjadi Muslim yang baik demi orang tua Anda. Anda tidak bisa menjadi orang baik demi masyarakat. Tidak bisa. Mereka bisa saja membantu, tapi hingga Anda memutuskan untuk melakukannya hanya dan semata-mata untuk Allah, godaan itu takkan berakhir, tidak mungkin.

Harus ikhlas, satu-satunya yang tahu hanya Anda dan saya sendiri. Di luaran kita bisa mencitrakan siapa kita, namun kenyataan di dalamnya hanya Allah yang tahu.

Diterjemahkan oleh tim subtitle Darul Arqam Studio.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s