Ep 1: Nabi Muhammad Di Mata Anak-Anak – Anak-Anak Di Sekitar Nabi (ﷺ) – Hesham Al Awadi


Jadi, apa hal yang akan membuat anak-anak terpesona untuk mengenal Nabi (ﷺ)? Oke, mari kita mulai dengan namanya. Namanya sangatlah panjang. Tapi kenapa kita tidak menghafalnya dan berpikir untuk menghafalnya?

https://www.youtube.com/watch?v=Pjg1xz-2Kcs

Muhammad ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abd Al-Muthalib ibn Hasyim ibn ‘Abdi Manaf ibn Qusay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’b ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr.

Bayangkan, saudara dan saudari sekalian, ketika Anda bertemu dengan Rasul (ﷺ) insya Allah di Jannah, dan berkata, “Ya Rasulullah, aku mengenalmu dengan namamu, bukan hanya Muhammad. Aku mengenal engkau sampai kakek buyutmu.”

Apa hubungan yang akan terjadi antara Anda dan beliau? Beliau lahir pada tahun 570 Masehi. Beliau dijadikan Nabi dan Rasul pada usia 40 tahun. Beliau tinggal di Mekah selama 13 tahun. Jadi sejak usia 40 tahun sebagai Nabi sampai usia 53 tahun. Kemudian beliau menetap di Madinah selama 10 tahun, dari usia 53 hingga 63 tahun.

Mari kita bahas apa saja pada seorang anak. Wajah… Pernahkah Anda menemukan seorang anak ketika dia melihat wajah seseorang, dia menangis, dan ketika dia melihat wajah lainnya dia tersenyum? Tapi tentu saja karena familiar.

Mungkin wajah ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin ketika wajah nyaman dilihat, bayi itu tersenyum? Untuk anak-anak, wajah Rasul (ﷺ) nyaman untuk dilihat. Wajahnya lembut untuk dilihat. Apa buktinya?

Buktinya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Barra ‘ibn ‘Azib, di mana dia didekati oleh sahabat lain yang tidak pernah melihat Rasul (ﷺ) dan dia bertanya (sahabat tersebut) dan berkata,

أَكَانَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مثل السَّيْفِ ؟

“Apakah wajah Nabi Muhammad (ﷺ) seperti pedang, tajam, seperti ingin memotong sesuatu?”

Dia bilang tidak. “Tidak. Wajah beliau seperti bulan.”

Sekarang bayangkan seorang anak melihat bulan. Apakah itu seperti melihat pedang? Atau bom, atau peledak? Atau pistol? Atau pisau dapur bahkan? Tidak. Tentu saja tidak. Jadi ia nyaman untuk melihatnya.

Anak itu melihat rambut Nabi (ﷺ) dan melihat rambut yang bagus, rambut yang bersih, rambut yang hitam. Bahkan pada usia 60 tahun? Bahkan pada usia 60 tahun. Bagi anak-anak beliau tidak terlalu tua. Bukanlah seorang kakek.

Seseorang yang nyaman didekati. Seseorang yang bisa bermain dengan kita. Seseorang yang bisa bercanda dengan kita. Dengan rasa hormat. Sosok ayah. Tentu saja sosok Nabi.

Sekarang matanya. Ada kontras warna. Warnanya hitam. Lebih hitam dari hitam. Dan lebih putih dari putih. Dan begitulah. Tidak ada warna merah, tidak ada guratan darah, dan putih, matanya putih.

Jadi bayangkan ini, bayangkan mata yang putih ini dan bayangkan kalau tersenyum. Ada hadis yang menarik ketika seorang anak berkata, Athallah ibn Haritsah namanya, katanya,

ما رآني رسول الله صلى الله عليه وسلم منذ أسلمت إلا تبسم في وجهي

“Kapanpun Nabi bertemu saya, beliau tersenyum.”

Sekarang bayangkan mata ini, mata yang tersenyum. Dan bayangkan bibirnya. Bibirnya cukup lebar, jadi ketika beliau berbicara Anda tidak akan melewatkan pembicaraannya. Ketika dia mengatakan sesuatu, Anda tidak akan melewatkannya.

Ketika dia berkata, “Wahai! Kemari!”

Anda tidak akan melewatkannya. Bahkan jika Anda tuli, Anda bisa melihat bibirnya. Dan tidak ada bau mulut. Tidak ada gigi kuning. Giginya bersih, miswak ada di dalam sakunya. Dan giginya tidak patah atau berwarna hitam atau ada penyakit. Gusinya sehat.

Ini persis apa yang akan dilihat seorang anak ketika seseorang berbicara. Dan itu memainkan peran yang luar biasa pada anak, yang mungkin tidak memahami secara rasional di balik setiap kata, tetapi akan memahami konteksnya dan bagaimana itu diartikulasikan.

Dan kemudian ketika beliau berbicara, beliau berbicara dengan sangat jelas. Beliau tidak batuk saat berbicara. Anda tidak perlu mengatakan kepadanya, keraskan suaranya atau turunkan. Beliau berbicara dengan nada bicara Anda. Dan beliau menyesuaikan suaranya sesuai dengan Anda. Bukan hanya suara saja, tetapi bahkan kontennya.

Beliau melihat umur Anda. Beliau melihat jenis kelamin Anda. Beliau melihat latar belakang pendidikan Anda. Dan beliau bereaksi dan bertindak serta memberi saran yang sesuai. Dan itulah mengapa Anda memiliki banyak riwayat para sahabat yang mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi menerima berbagai jawaban sesuai dengan karakter kepribadian masing-masing.

Beliau berbicara dengan sangat jelas, begitu sampai Aisyah radhiyallahu anha berkata, bahwa pendengarnya akan menghafal apa yang beliau katakan.

Jadi setiap pendengar benar-benar berubah menjadi tape recorder. Karena beliau berbicara dengan perlahan, tidak lambat untuk membuat Anda bosan atau membuat Anda tertidur, tidak. Perlahan untuk Anda serap.

Dan terkadang, seperti yang dikatakan Anas ibn Malik, beliau mengulangi apa yang dikatakannya 3 kali, tidak selalu, tetapi 3 kali. Dan saya dapat membayangkan bahwa mungkin beliau mengulangi 3 kali untuk anak-anak. Mungkin. Karena anak-anak membutuhkan pengulangan.

Diterjemahkan oleh tim subtitle Darul Arqam Studio.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s