Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Featured Slider / Muhasabah

Untuk Inikah Al-Quran Diturunkan?

Untuk Inikah Al-Quran Diturunkan?

Allah telah jelaskan bahwa hati manusia itu akan menjadi keras seperti orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), KENAPA, karena mereka membaca kitab dan melafalkannya, tapi mereka tidak mengerti sama sekali isi kitab tersebut.

Mereka tidak peduli, mereka tidak menggunakan kitab tersebut untuk melembutkan hati mereka, untuk ‘berbicara’ dengan Allah. Mereka tidak memiliki apa yang harusnya mereka dapatkan dari kitab itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Para ahli kitab itu tidak mendapatkan manfaat (dari kitab ini) sama sekali. Mereka memiliki Taurat dan Injil tapi tidak mendapatkan manfaat apapun”.

Para muslim akan menjadi seperti mereka.

Kaum muslimin akan datang kepada para imam dan berkata,
“Imam Shaab, aku terserang demam, ayat manakah yang harus aku bacakan?”
“Putriku akan menikah, surat manakah yang harus ditampilkan setelah DJ selesai tampil?”
“Doa yang mana dari AlQur’an yang harus aku bacakan ketika aku sedang mencari pekerjaan?”

Hanya itukah arti AlQur’an bagimu?

Kamu bilang mencari berkah dalam semua hal, apakah AlQur’an memberikan barakah kepada acara pesta dan seremonimu?

Untuk itukah AlQur’an diturunkan?

Apakah AlQur’an turun supaya kau dapat menyewa seseorang dalam acara pernikahanmu? Lalu ia datang dan membacakan AlQur’an kemudian meletakkan selendang di atas kepala pengantin?

Atau AlQur’an turun agar kau dapat memiliki hiasan dinding besar yang bertuliskan ayat di dalam rumahmu? Hiasan dinding besar surat Al-Ashr di dalam rumah yang kau pajang di samping TV puluhan inch?

Untuk itukah AlQur’an turun?

Supaya kau dapat menggantungkan tulisan ayat kursi di kaca spion depan mobilmu? Karena kau tidak memiliki ‘air bag’ sebagai pengaman?

Untuk itukah AlQur’an turun?
Apa yang terjadi?
Apa telah kita lakukan pada AlQur’an selama ini?
Apa yang telah kita buat sampai mengubahnya?

Ini adalah hal yang teramat penting.

Allah menurunkan petunjuknya seperti ini. Telah banyak orang yang meneteskan darah agar dapat mengubah hidupnya sesuai dengan petunjuk isi kitab. Tapi sekarang AlQur’an hanya menjadi sebuah kitab seremoni. Ini membuat hati hancur dan menyakitkan.

Kita membalut kitab ini, dan mencetaknya di atas sutra, lalu kita mengadakan pameran seni AlQur’an.

Kita merayakan anak-anak kita yang berhasil menghafalkan AlQur’an, Tapi kita tidak menangis ketika anak-anak itu beranjak dewasa tapi tidak mengetahui apa yang mereka bacakan.

Mereka tetap tidak mengerti dan kita tetap merayakannya. Setiap tahun. Lalu anak-anak itu memimpin shalat tarawih tapi mereka tidak mengerti apa yang ia bacakan. Lalu apa yang kalian harapkan dari para makmumnya…?

Pria yang memimpin shalat saja tidak mengerti.

Ada yang salah dengan ini semua. Ini tidak normal, seharusnya keadaan tidak seperti ini. Tapi kitalah yang telah membuatnya.

Dan anak-anak kita, ketika kita membangun hubungan palsu dengan AlQur’an, anak-anak itu menghafal AlQur’an dan tujuan besarnya hanyalah, “Aku akan memimpin shalat tarawih tahun ini”.

AlQur’an bukanlah sebuah piala.

AlQur’an bukanlah bertujuan agar kau mendapatkan hadiah ketika membacakannya. Bukan itu.

Aku bertemu dengan beberapa anak yang menghafal AlQur’an dan mereka mencari tempat (mesjid) untuk memimpin shalat tarawih karena bulan Ramadhan akan tiba.

Dan mereka berkata, “Hei berapa mereka akan bayar? mesjid yang ini berapa? hadiah apa yang akan kau dapat dari mesjid itu?”

Mereka malah membicarakan apa yang akan mereka terima atau berapa upah ketika memimpin shalat.

Ini harus menjadi perhatian kita. Inikah yang telah kita lakukan dengan AlQur’an?

Kita yang melakukan ini bukan orang lain. Jangan salahkan pemerintah. Kitalah yang melakukan ini pada kitab Allah,

Tidakkah kau berpikir Allah akan meminta pertanggungjawaban kita tentang ini semua?

Bagaimana seharusnya?

Dulu para penghafal AlQur’an disebut juga dengan Hamilat Quran. Pembawa Al Quran. Karena mereka mengerti bahwa mereka sedang membawa tanggung jawab yang besar.

Dan aku tidak menuding ini terhadap anak-anak yang menghafal AlQur’an, ini bukan salah mereka. Ini salah kita karena tidak mengajarkan lebih jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>