Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Main Slider / Muhasabah

Tiga Cara Merasakan Lezatnya Iman

Tiga Cara Merasakan Lezatnya Iman

Orang yang telah merasakan nikmatnya iman, maka dia mampu menahan segala kesulitan dalam beribadah, baginya segala kesukaran tersebut tidak sebanding dengan kelezatan iman. Dan dia tidak akan meninggalkan ibadah hanya karena urusan dunia, karena dia mengetahui dengan benar bahwa rezekinya sudah ditentukan sejak janin berumur 4 bulan.

Makna manisnya iman adalah merasa lezat dalam melakukan ketaatan, menahan beban dalam mengamalkan agama dan lebih mendahulukan hal tersebut dari seluruh kenikmatan dunia.” [Fathul Baari, 1/61]

Ada tiga cara yang harus kita tempuh agar bisa menikmati lezatnya keimanan.

1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Cara yang pertama ialah mencintai Allah dan mencintai apa yang Allah cintai. Bagaimana caranya, gapailah cinta Allah dengan amalan-amalan sunnah. Lalu cintailah Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling Allah cintai. Tidaklah sempurna iman kalian, hingga aku lebih dicintainya, dari ayah ibunya, dan anaknya, dan seluruh manusia” (Shahih Bukhari)

“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”  QS Al-Imron 31

Cinta ada yang benar dan ada yang palsu, meskipun hati mengharu-biru tapi jika kita tidak meneladani Rasulullah SAW maka cinta kita itu palsu.

2. Mencintai Orang Lain Karena Allah

Cinta karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat, maknanya adalah mencintai seseorang hendaklah karena ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka semakin takwa seseorang hendaklah kita semakin cinta kepadanya.

3. Membenci Dosa dan Kekafiran

“Dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci kalau dirinya dilempar ke dalam api.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]. Dalam riwayat Al-Bukhari: Dan sampai dilempar ke dalam api lebih ia sukai dibanding kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut.

Manusia yang mencintai/mengikuti orang kafir terbagi dua:

1. mencintai karena agamanya (maka dia tergolong kafir)
2. mencintai karena dunia (dosa besar tapi tidak tergolong kafir)

Janganlah kita mengikuti atau bahkan mencintai orang kafir karena dunia ataupun karena kekafirannya. Ingatlah di akhirat nanti mereka akan saling membenci, hilang sudah rasa kecintaan diantara orang kafir, masing-masing sibuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya kecintaan kepada sesama muslim yang akan kekal. Kecintaan karena Allah Azza Wa Jalla.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:  Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”. (HR. Bukhari:15)

Sumber: Ust. Sofyan Ruray, Kajian Kitab Tauhid Masjid Nurullah Kalibata City, Sabtu 23 September 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>