Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Amazed by Quran / Featured Slider

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat

By: Rifqi Ikhwanuddin

Temukan Sisi Lain Al-Fatihah

Sebagai seorang muslim kamu sudah sangat familiar dengan Surat Al-Fatihah. Dalam sehari kita selalu membacanya sebanyak 17 kali dalam shalat wajib, belum lagi ditambah dengan yang sunnah. Bahkan mungkin semasa kecil, Al-Fatihah adalah surat pertama yang mampu kamu hafalkan.

Lantas kini setelah dewasa sejauh apa kita sudah memaknai ayat-ayat dalam Surat Al-Fatihah? Apakah dengan hanya membaca terjemah bahasa Indonesianya sudah cukup memahami kandungan ayat-ayatnya?

Bagian ini kita akan menjelajahi khazanah baru yang dibuka oleh Ustadz Nouman Ali Khan dalam menemukan sisi lain Al-Fatihah yang tak terlihat. Harapannya di akhir pembahasan, kita dapat selalu mengingat makna-maknanya di dalam shalat.

Dalam sejarah turunnya wahyu-wahyu atas Nabi Muhammad SAW, kita tahu bahwa Al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu yang pertama kali turun. Namun wahyu ini tidak langsung turun secara lengkap dalam satu waktu. Dan barangkali kita baru tahu bahwa Al-Fatihah adalah surat pertama yang diwahyukan secara utuh dalam satu waktu. Berdasar wahyu pula, Allah SWT menuntunkan Rasulullah agar meletakkan Surat Al-Fatihah sebagai pembuka di dalam Al-Quran, mengawali surat-surat lainnya. Selain itu Al-Fatihah juga menjadi rukun dalam shalat, setiap raka’at kita wajib membacanya dengan lengkap.

Alhamdulillah

Pembahasan dalam buku ini akan berangkat dari ayat pertama Surat Al-Fatihah yaitu “alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin”. Sepanjang sejarah ada perbedaan pendapat mengenai yang mana ayat pertama Surat Al-Fatihah, antara “bismillaahi..” atau “alhamdulillaahi..”. Ulasan ini tidak akan banyak membahas pendapat-pendapat yang tersedia, Ustadz Nouman setelah banyak menelaah lalu condong kepada pendapat yang berlandaskan hadith Qudsi berkenaan dengan Al-Fatihah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّصلى الله عليه وسلمقَالَ : مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌثَلاَثًاغَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِصلى الله عليه وسلميَقُولُ  :قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِىوَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِىفَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu Al Fatihah), maka shalatnya kurang (tidak sah) -beliau mengulanginya tiga kali-, maksudnya tidak sempurna.” Maka dikatakan pada Abu Hurairah bahwa kami shalat di belakang imam. Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk diri kalian sendiri karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘arrahmanir rahiim’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiraathal mustaqiim, shiraatalladzina an’amta ‘alaihim, ghairil magdhuubi ‘alaihim wa laaddhaallin’, Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

HR. Muslim no. 395

Pada hadith Qudsi di atas, Allah SWT berfirman mengenai Al-Fatihah dengan memulai pada ayat yang berbunyi “alhamdulillaahi..”, bukan “bismillaahi..”. Dengan demikian secara ringkas bagian ini kita simpulkan bahwa ayat pertama Al-Fatihah adalah yang berbunyi “alhamdulillaahi..”.

Sering sekali kita mengucap hamdalah di banyak kesempatan. Ayat pertama Surat Al-Fatihah ini adalah bagian dari ucapan hamdalah tersebut. Semisal saat kamu ditanya kabar maka jawabnya “Alhamdulillaah!”. Juga saat datang rizqi yang tidak disangka-sangka, memperoleh beasiswa atau misalnya mendengar kabar saudara yang baru sembuh dari sakitnya.

Dalam terjemah populer kita mengartikan bunyi “alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin” sebagai “Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam”. Terjemahan semacam ini kurang tepat karena menghilangkan maksud kompleks yang (bagi kita) secara ajaib Allah sederhanakan hanya dalam beberapa kata saja. Kata alhamdu dalam bahasa Arabnya memiliki dua makna sekaligus, yaitu pujian dan syukur (terima kasih). Dalam budaya kita, memuji dan berterima kasih adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Kita tidak bisa memuji sekaligus berterima kasih pada sesuatu atau seseorang (kecuali kepada Allah SWT).

Sebagai contoh, di jalan kamu menjumpai mobil yang sangat mewah, terlihat mahal dan hanya sedikit orang yang bisa memilikinya. Kamu memujinya dengan berucap, “Mobil itu bagus.” Kamu tidak mengatakan, “Terima kasih, ya mobil.” Manusia hanya bisa memuji sebuah barang yang diproduksi oleh pabrik. Akan terdengar aneh kalau kita berterima kasih pada mobil yang hanya sekedar lewat di depan mata.

Lalu contoh lain kamu berkunjung ke seorang teman yang baru saja melahirkan bayi. Secara refleks kamu memuji si bayi dengan mengucap, “Aduh dek kamu lucu sekali.” Kamu juga tidak berterima kasih pada si bayi. Ada konteks yang harus dipenuhi untuk seseorang berterima kasih. Konteks tersebut adalah seseorang telah menolong atau berbuat sesuatu kepada kita. Dan pada kenyataannya sehari-hari pujian itu tidak selalu dibarengi dengan rasa terima kasih, berlaku juga sebaliknya rasa terima kasih tidak selalu dibarengi dengan pujian.

Di dalam Al-Quran ada contoh tentang “terima kasih” ini yaitu kisah antara Nabi Musa AS dengan Ayah angkatnya, Firaun.  ……..

Lanjut Baca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>