Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Amazed by Quran

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat 3

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat 3

By Rifqi Ikhwanuddin

Paling tidak Allah memiliki 99 Nama. Dalam surat ini Allah SWT tidak berfirman dengan alhamdulillaahi-rahmaan, alhamdulillaahi-rahiim, alhamdulillaahi-maalik, alhamdulillaahi-khaaliq, alhamdulillaahi-wahhaab, alhamdulillaahi-qahhaar, semuanya benar.

Tapi di momen paling pertama Allah ingin memperkenalkan diri-Nya sebagai apa? Sebagai Rabb. Seperti dalam perkenalan, kita menyebut nama diri atau deskripsi kita? Tentunya nama kita. Kamu tidak berkata, “Assalamualaikum, saya guru”, tapi berkata, “Assalamualaikum, saya Fulan.” Andai perkenalan Allah ini tidak penting maka bisa saja bentuk firmannya menjadi “al-hamduli-rabbil-‘aalamiin”. Ini membingungkan karena perkenalan diawali dengan deksripsi Tuhan sebagai Rabb, bukan identitas nama yang spesifik.

قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ

Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam. Yaitu Tuhan Musa dan Harun.

QS. Al-A’raaf: 121-122

Pujian Hanya Kepada Allah

Ingat kisah para penyihir yang takjub dengan mukjizat Nabi Musa AS. Para penyihir itu pun tiarap sujud di dekat Firaun, lalu Firaun terheran-heran kenapa mereka bersujud. Kemudian penyihir mengucapkan, “aamanna birabbil-‘aalamiin ” yang artinya “kami beriman kepada Rabb seluruh alam”.

Firaun masih bingung. Sebab Firaun mengira, yaa benar dirinyalah Rabb yang dimaksud itu. Lalu kenapa? Firaun merasa tidak keberatan dengan ucapan itu. Karena kesalahpahaman ini para penyihir melanjutkan dengan “Rabbi muusaa wa haaruun”  yang artinya “yaitu Tuhannya Musa dan Harun”. Penyihir perlu mengklarifikasi karena Sang Firaun di sini memang mengaku diri sebagai Rabb alam, saingannya Allah SWT.

Di sini kehadiran kata “Allah” sangat kritikal. Kembali ke-99 Nama Allah. Andai kita melimpahkan pujian dan terima kasih pada salah satu sifatnya, maka kita hanya berterima kasih karena “sifat” atau “nama” yang itu.

Contohnya al-hamdu-lil-khaaliq, segala puji dan terima kasih milik Sang Pencipta. Konsekuensinya adalah kita berterima kasih pada-Nya hanya karena Dia Menciptakan. Lalu untuk sifat lainnya misal al-Hakiim, yang Maha Bijaksana. Memuji-Nya hanya karena satu sifat yang Maha Bijaksana. Lantas bagaimanakah sebaiknya memuji dan berterima kasih pada segala sesuatu tentang-Nya dan tidak terlewat sedikit pun dari apa yang kita sadar maupun tidak sehingga meliputi segalanya? Jawabannya hanya satu, al-hamdu-lillaah.

Dapat kita rasakan penjelasan yang panjang dan melelahkan sedari awal baru mengantarkan kita ke separuh ayat pertama Surat Al-Fatihah. Masih ada potongan yang akan kita lanjutkan setelah ini. Coba ya bayangkan, sebetulnya keseluruhan Al-Quran itu isinya seperti ini. Kita perlu menghabiskan banyak waktu untuk menakjubi sisi-sisi ayat Al-Quran kata demi kata. Mungkin seumur hidup kita baru betul-betul bisa menakjubi isi 50 ayat, ya tidak apa-apa. Pokoknya upaya itu tidak berhenti dan kita bisa melaksanakannya dengan konsisten.

Al-Fatihah dengan arti Pembukaan, mengisyaratkan betapa jalan dibukanya pemahaman kita tentang Al-Quran semua bermula dari Al-Fatihah. Maka amat penting bagi kita memahami kembali sisi-sisi Al-Fatihah yang belum terjelaskan huruf demi huruf. Surat yang pendek ini jika kita tidak mengapresiasi keindahan dan kedalaman maknanya, maka secara alami kita akan meremehkan dan juga mengalami kesulitan memahami surat-surat setelahnya, yang sebenarnya seluruh Al-Quran itu sendiri.

Allah ialah Rabb

Setelah Allah memperkenalkan nama-Nya sebagai “Allah”, lalu apa? Ucapan al-hamdu-lillaah diikuti dengan rabbil-‘aalamiin yang berarti Rabb seluruh alam. Kata Rabb adalah satu-satunya deskripsi tentang diri-Nya yang disebut pertama kali di Al-Quran. Padahal ada sifat-sifat lain seperti Al-‘Aziiz, Al-Hakiim, Al-Khaaliq, dan lain-lain tapi Allah memilih kata Rabb. Rabb ini rumit, ia memiliki banyak arti di antaranya ialah: (1) yang memiliki, (2) yang memelihara pertumbuhan, (3) yang memberikan hadiah, (4) yang memastikan segala sesuatu dengan konsisten, dan (5) yang memiliki kekuasaan penuh.

Jika Allah Pemilik, maka kita adalah properti-Nya. Berkenaan dengan pemeliharaan, amat mungkin bagi Sang Pemilik untuk tidak memelihara properti-Nya. Pada kasus manusia bisa saja seorang memiliki mobil atau taman tapi tidak terawat sehingga ia rusak dan tidak lagi indah. Bentuk kata Rabb ini memberitakan sebuah sifat yang memiliki sekaligus mampu merawat.

Lalu arti ketiga, ada Rabb yang memiliki properti, memeliharanya, lalu memberinya hadiah. Pada kasus manusia ada orang punya sapi, ia merawat si sapi dengan baik dengan menjaga makanan dan kesehatannya. Lalu ia juga memberi si sapi hadiah saat ia berulang tahun. Ini aneh, tidak terjadi di antara manusia karena kualitas ini hanya dimiliki Allah SWT.

Sementara kualitas sifat keempat adalah yang menjaga secara konsisten. Setiap detik atau bahkan satuan waktu yang lebih pendek dari detik selalu Allah jaga agar berlangsung hukum yang sesuai kehendak-Nya. Andai 1 detik saja peredaran darah di tubuh ini tidak tunduk dengan satu aturan, maka konsekuensinya kegagalan organ dan sistem metabolisme tubuh. Andai 1 detik saja gravitasi antar planet-planet Allah abaikan, tercerai-berai, maka beberapa menit kemudian bertabrakanlan benda-benda langit dan berantakanlah seluruh galaksi.

Kualitas sifat kelima mensyaratkan sebutan Rabb hanya untuk ia yang berkuasa penuh atas yang dimilikinya. Sebab ada kepemilikan yang membuat pemiliknya tidak bebas dan berkuasa penuh atas yang dikuasainya. Contoh orang memiliki mobil masih harus tunduk dengan aturan mengemudi, aturan kepemilikan, perpajakan, dan lain-lain. Kekuasaannya atas mobil itu terbatasi oleh banyak hal. Kualitas ini dapat diringkas menggambarkan sosok yang memiliki sesuatu, ia merawat seluruh yang dimilikinya, ditambah ia memberikan hadiah, menjaga keutuhannya secara konsisten, dan menguasainya dengan kekuatan absolut, maka ia pantas disebut Rabb.

Semua pengertian Rabb di atas hanya berarti satu hal, bahwa Allah SWT yang kita kenal selama ini adalah Majikan atau Master dan manusia adalah hamba, budak, atau slave. Sebagai hamba kita adalah properti bagi-Nya, hamba yang dirawat dan dipelihara oleh-Nya, apa-apa yang hamba miliki adalah hadiah dari-Nya, keberlangsungan hamba amat bergantung dari konsistensi keutuhan aturan-Nya, terakhir kekuasaan-Nya absolut sehingga semua hamba tunduk dan menuruti kehendak-Nya. Sudah seperti itu kah wahai diri?

Sifat-sifat-Nya mengindikasikan ikatan emosional. Pada tataran manusia sebagai contoh jika ada guru, maka ada murid. Disebut pemilik bisnis, ada karyawan penjalan bisnis. Disebut pilot, maka ada penumpang pesawat. Deskripsi identitas semua itu menunjukkan hubungan dengan identitas yang lain. Sementara beberapa Sifat-Nya ada yang tidak menunjukkan hubungan emosional seperti Yang Maha Bijaksana. Tidak bisa kita memasangkan Yang Maha Berilmu dengan Yang Maha Bodoh. Cerdas dan tidak cerdas bukanlah pasangan yang berhubungan secara sosial.

Contoh lain, jika kamu tinggi tidak berarti semua temanmu pendek, di antaranya juga ada yang lebih tinggi dari kamu. Kembali ke identitas Rabb di atas, Allah SWT ingin menegaskan kepada manusia dengan perkenalan bahwa diri-Nya adalah Majikan dan kita adalah hamba-Nya. Ada Rabb ada ‘Abd. Seluruh bagian Al-Quran rupanya hanya berisi ini: bahwa kamu harus sadar menjalani hidup sebagai hamba-Nya. Kamu tidak bebas, kamu dibatasi oleh aturan-aturan dan keinginan-Nya.

Konsep majikan-budak ini mungkin asing bagi kita, tapi senyatanya ia memang masih terjadi di sekitar kita dengan kualitas-kualitasnya bukan wujud vulgarnya. Jika di sekitar kita ada sosok yang menguasai sesuatu, ia menggaji kita, menjaga kita agar tetap sejahtera, kadang-kadang memberi bonus, dan ia berkuasa atas kita di atas perjanjian kontrak mungkin dia juga Rabb, dalam kualitas yang lebih rendah, tapi tetap Rabb. Hari ini kita harus bisa menempatkan diri kepada Rabb yang seperti apa kita mesti tunduk. Yaitu kepada Rabb Al-‘Aalamiin.

Quran ialah Petunjuk Bagi Semua Bangsa

Al-‘Aalam ialah dunianya manusia yang berlangsung di masa ini, sehingga masa lalu dan masa depan tidak termasuk di dalamnya. Al-‘Aalam juga bisa terbatas karena konteks kebudayaan atau peradaban. Ada dunia Asia 500 tahun lalu, dunia Eropa 1000 tahun lalu, dunia globalisasi hari ini, dan seterusnya.

Al-‘Aalamiin mencakup semua manusia, dari berbagai bangsa, berbagai generasi, semua budaya, dan semua bahasa. Sehingga Allah SWT di sini menyebut diri-Nya sebagai Majikan atas seluruh hamba di semua tempat dan semua masa. Menjadi muslim tidak berarti kamu harus menjadi orang Arab, sebab tanggung jawab ber-Islam terbebani kepada semua bangsa. Tetap saja menjadi orang Indonesia dan kamu tetap terbebani iman dan amalan seorang muslim.

Petunjuk ini, Al-Quran, diturunkan untuk seluruh ummat manusia dari semua zaman (tentunya setelah masa Nabi Muhammad SAW). Al-Quran tidak diperuntukkan bagi orang Arab saja, Pakistan saja, atau Indonesia saja, tapi semua bangsa semua negara. Ini juga mengindikasikan bahwa tidak ada satupun bangsa hari ini yang dilebihkan atas bangsa lain, sebab semua bangsa berhak mendapatkan petunjuk Al-Quran dan mengikuti aturan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>