Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Amazed by Quran

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat 2

Sisi Lain Al-Fatihah Yang Tak Terlihat 2

By Rifqi Ikhwanuddin

Menajamkan makna ‘Terima Kasih’

Di dalam Al-Quran ada contoh tentang “terima kasih” ini yaitu kisah antara Nabi Musa AS dengan Ayah angkatnya, Firaun. Siapa yang tidak kenal Firaun (Pharaoh)? Ia penguasa Mesir masa itu. Dan ketika Musa masuk dalam lingkaran keluarga Firaun, maka Musa kecil bisa juga disebut sebagai pangeran atau semacam kandidat Pharaoh berikutnya. Singkat cerita Firaun berkata, “Berani-beraninya kamu berkata seperti ini (menentang Firaun)? Tidakkah kamu berterima kasih karena kami yang membesarkanmu dari bayi hingga dewasa?”

Lalu Musa AS menjawab, “Ya, memang benar kamu telah membesarkanku, terima kasih.”  Kita ingat kalau Firaun itu tidak pantas dipuji atas perbuatannya dengan mengaku-aku sebagai Tuhan, apalagi ia telah bertindak tirani pada rakyatnya. Dalam hal ini, Nabi Musa AS hanya berterima kasih karena Firaun telah membesarkan dirinya, tanpa memuji pribadi Firaun. Pelajaran pertama yang kita dapat dari Al-Quran, berterima kasih bisa tidak beriringan dengan pujian.

Seburuk apapun label yang diberikan kepada Firaun, bila ia berbuat baik maka adalah haknya kita menyampaikan terima kasih. Meski ia berhak diterimakasihi, ia tidak pantas dipuji. Tidak oleh Nabi Musa AS ataupun kita hari ini.

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Hendaknya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang makruf dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada Akulah kembali kalian, maka Kuberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.

QS. Luqman: 14-15

Al-Quran banyak berbicara tentang hak-hak orang tua. Allah berfirman, “Berterimakasihlah pada-Ku dan pada kedua orang tuamu. Dan jika orang tua memaksamu untuk berbuat syirik, jangan taati mereka.” Syirik ini seburuk-buruk sikap seorang hamba kepada Rabb-nya, tidak ada contoh yang lebih parah ketimbang syirik. Namun demikian seorang anak tetap harus selama-lamanya berterima kasih pada kedua orang tuanya. Meski tidak bisa memujinya, kamu tetap harus berterima kasih pada orang tuamu.

Perbedaan antara Pujian dan Terima Kasih

Di ayat pertama ini kita akan beri perhatian lebih banyak karena sisi menakjubkan Surat Al-Fatihah tidak bisa diamati kalau tidak memperhatikan pilihan bahasanya. Al-hamdu memiliki dua makna sekaligus, pujian serta terima kasih. Pujian saja dalam bahasa Arab adalah al-madah dan terima kasih adalah asy-syukur. Apabila dipisah-pisah bisa saja “al-hamdu-lillaah” menjadi “al-madhu-lillaah” atau “asy-syukru-lillaah”. Tapi kan tidak begitu.

Alasan pertama ialah pilihan kata dalam Al-Quran dapat menunjukkan tingkat ketulusan maksud. Pujian boleh jadi dipalsukan atau tidak betul-betul tulus, semisal ada orang yang memuji atasan atau supervisornya dengan imbalan hubungan menguntungkan yang membaikkan karir di kantor. Pujian yang semacam ini masuk dalam bentuk bahasa Arab “madah”. Dan untuk Allah tidak pantas kita memberi bentuk pujian yang tidak tulus kepada-Nya. Maka “al-madhu-lillaah” kita lupakan jauh-jauh.

Alasan kedua, terima kasih dalam bentuk “asy-syukru-lillaah” bisa saja dipersembahkan untuk-Nya. Tapi terima kasih adalah sebuah reaksi. Jika kamu menerima pertolongan dari manusia, di akhir momen itu kamu baru mengucapkan terima kasih. Tidak ada ceritanya kamu berterima kasih padahal dia belum berbuat apa-apa. Lebih aneh lagi kamu berterima kasih pada semua orang di jalan raya, padahal mereka tidak atau belum berbuat apa-apa. Di sini bentuk “al-hamdu-lillaah” tidak harus diucapkan di akhir, berterima kasih di awal juga bisa. Sementara “asy-syukru-lillaah” harus di akhir karena mensyaratkan selesainya sebuah bantuan. Dan Allah SWT telah memilihkan kalimat yang jauh lebih baik meski dari gabungan keduanya (al-madhu-lillaah dan asy-syukru-lillaah), subhanaAllah.

Alasan ketiga dalam ilmu bahasa ada prinsip sederhana, semakin ringkas rangkaian kata sekaligus banyak mengandung makna maka nilai kebahasaannya menjadi sangat tinggi. Dan kita semua setuju dengan hal ini. Sebagai contoh temanmu bicara panjang lebar lebih dari 30 menit tapi sebetulnya poin-poinnya bisa disederhanakan untuk durasi 3 menit. Kamu cenderung malas mendengar kata-kata yang bertele-tele dan lebih suka komunikasi yang ringkas namun efektif serta kaya makna.

Alasan keempat, dengan memisahkan bentuk puji dan terima kasih maka kita perlu kata hubung ‘dan’ atau dalam bahasa Arab ‘wa’. Semisal jadinya begini, “al-madhu-lillaah wasy-syukru-lillaah.” Satu waktu kita bisa saja sedang mood untuk memuji-Nya tapi tidak berterima kasih pada-Nya. Lalu lain waktu bisa saja berterima kasih tapi tidak sekaligus memuji-Nya. Hikmahnya adalah bagi setiap muslim untuk membiasakan diri mengucap “al-hamdu-lillaah” agar dirinya selalu ingat momen untuk memuji sekaligus berterima kasih pada-Nya.

Coba perhatikan betapa menawan sikap dan cara berpikir seorang muslim. Tatkala ia terjebak macet, alih-alih menggerutu ia akan mengucap “al-hamdu-lilaah.” Meski agak susah pada kenyataannya tapi cara pandang seperti ini harus dilatih dan mendarah daging. Saat kamu mengucapkan itu maka maknanya adalah “Ya Allah seburuk-buruknya dosaku.. aku yakin ada hikmah dalam kejadian ini, ada kebaikan untukku, aku berterima kasih atas pemberian-Mu ini, dan aku memuji-Mu karena Engkau Melindungiku di antara macet-macet ini”.

Atau di antara kalian yang sudah bekerja dan mampu membeli mobil ucapkanlah “al-hamdu-lillaah” yang maknanya syukur karena dikaruniai-Nya pekerjaan bagus ditambah dimampukan untuk membeli mobil dengan lunas.

Pujian bagi Allah Tak Perlu Dimensi Waktu

Mari lanjut melihat sisi lain Al-Fatihah, masih dari bahasa. Kita tahu ada jenis kata benda dan kata kerja. Dalam bahasa Arab kata kerja dibagi lagi untuk waktu-waktu berbeda: ada lampau (fi’il madhi) dan saat ini / masa depan (fi’il mudhari’). Sementara kata benda dalam bahasa Arab tidak dibedakan oleh waktu atau durasi tertentu. Kata benda akan selama-lamanya dalam bentuk yang sama dan tidak berubah oleh waktu.

Lalu ketika “kamu memuji Allah”, itu bentuk kata benda atau kata kerja? Ya, kata kerja. Sayangnya dalam bahasa Indonesia kita tidak bisa membedakan kata kerja tersebut dilakukan di waktu yang kapan, saat ini / masa lalu / masa depan.

Lalu bentuk “Pujian milik Allah”, itu menjadi bentuk kata benda. Pemilihan bentuk kata benda ini membuat ‘pujian’ bagi Allah tidak berubah dalam waktu. Memuji di masa lalu tidak ada jaminan saat ini masih sama. Memuji saat ini tidak ada jaminan di masa depan masih punya sikap yang sama. Selain itu ‘pujian’ bagi Allah tidak membutuhkan subjek pelaku. Bentuk kata benda tidak membutuhkan pelaku untuk melakukannya dan tidak terbatas durasi waktu tertentu.

Tidak peduli sang hamba memuji-Nya atau tidak, Dia tetap pemilik segala Puji-pujian. Mau yang memuji-Nya hanya 700 miliar orang atau 1 juta orang tidak ada bedanya, Puji-pujian masih milik-Nya. Karena kehadiran manusia di dunia ini hanya sesaat konsekuensinya suatu saat kita akan berhenti memuji-Nya, lalu apakah hilang Puji-pujian-Nya? Kan tidak, karena kita mengucapkannya dalam bentuk al-hamdu, Allah telah membuat ayat ini atau amalan sehari-hari yang kita ucapkan menjadi independen dan tidak butuh subjek atau durasi waktu tertentu. Puji-pujian-Nya selamanya akan terus ada, sementara kita ini makhluk yang fana. Allah tidak bergantung pada pujian hamba-Nya, saat si hamba tiada Puji-pujian-Nya akan tetap selama-lamanya ada. Sehingga isyarat dari bentuk kata benda al-hamdu adalah keabadian.

Pujian bagi Allah Tak Perlu seorang Hamba

Kata perintah adalah salah satu bentuk kata kerja yang khusus. Dalam bahasa Arab bisa saja Allah SWT berfirman, “ihmadu-llaah!”, “Pujilah Allah!”, “Berterimakasihlah pada Allah!”. Konsekuensinya ada dua, jika seseorang menerima perintah maka ia dapat menuruti atau mengabaikannya. Andai Allah betul-betul berfirman, “ihmadu-llaah!”, maka Dia membutuhkan orang lain untuk mengeksekusi perintah itu. Sebagian melakukannya sebagian lainnya tidak melakukannya. Padahal kita lagi-lagi sudah tahu, Allah SWT tidak peduli kita melakukannya atau tidak karena Puji-pujian itu tetap milik-Nya, tanpa perlu kita selama-lamanya.

Selanjutnya, penempatan kata Allah setelah al-hamdu adalah bentuk perkenalan yang pertama dan sangat penting. Dengan mengucap segala puji bagi “…” kita perlu tahu kepada siapakah pemilik segala puji-pujian? Dan jawabannya adalah nama-Nya, Allah sendiri. Allah memperkenalkan dirinya sebagai Allah yang sekaligus pemilik segala pujian. Bagi kita mungkin ini biasa saja, tapi hikmahnya bagi non-muslim yang mendengar akan memiliki perspektif berbeda tentang siapa pemilik segala pujian.

Sebagai contoh kalau muslim hanya mengucap “Puji Tuhan” maka non-muslim tidak akan tahu Tuhan dengan nama yang mana. Sementara dalam kebudayaan kita saat ini yang menyebut nama Allah adalah muslim, maka mengucapkannya bisa jadi jalan dakwah kepada lingkungan kita tentang siapa itu Tuhan. Pada bagian ini orang musyrik pada praktiknya kehilangan pesan ini, bahwa puji-pujian hanya milik Satu Nama yang tidak berbilang. Al-Fatihah memberi peringatan kepada ummat muslim agar tidak seperti orang musyrik yang kehilangan arah dengan mempersembahkan puji-pujian bagi sosok yang lain.

Lanjut Baca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>