Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com

Blog

Berita

Mendidik Generasi, Membangun Peradaban

Mendidik Generasi, Membangun Peradaban

Juli 30, 2017

Parenting dalam Al-Qur’an – Irfan Habibie Martanegara

The Quranic Essence of Parenting (video NAK)
Poin2 penting dari video:

“Apakah keyakinan seseorang hanya bergantung pada lingkungannya?”

Ambil beberapa kisah di Qur’an>>

– Lingkungan yang sangat tidak mendukung untuk mempertahankan imannya. (Kisah nabi Ibrahim).

Meskipun lingkungan baik tapi belum tentu juga semua anaknya akan jadi baik. (Kisah nabi Yaqub & Yusuf dengan saudara-saudaranya)

Meskipun ayahnya seorang nabi tapi belum tentu anaknya akan beriman pada Allah.
(Kisah nabi Nuh)

Intinya: Kita tidak punya kontrol sama sekali mengenai anak-anak kita, tapi kita punya responsibilities untuk mendidik mereka. Harus bisa membedakan kedua hal ini!

Permasalahan banyak keluarga saat ini:

Ada beberapa ortu yang merasa anaknya berubah dari begitu baik, sopan, perfect menjadi pembangkang (completely becoming different people).

Terjadi pertengkaran hebat antara ortu-anak.

Penyebabnya: orang tua yang terlalu ‘sering’ menasehati anaknya, mengingatkan ibadah berkali-kali, sehingga tiba-tiba anaknya berkata, “That’s enough! I just wanna be happy. I don’t wanna hear that anymore.” (Slam the door)

Peristiwa ini Allah jelaskan dalam Qur’an, itu bukanlah peristiwa baru tapi telah terjadi ribuan tahun lalu.

Saran untuk anak >>

Boleh saja mempertanyakan tentang agama tapi jangan perlakukan ortu dengan merciless, karena mereka telah memberikan cinta dan perhatian yang berlimpah.

Untuk ortu >>

Teruslah berdo’a pada Allah seperti yang nabi Ibrahim, Yaqub, Nuh lakukan.

Ketika anakmu sudah dewasa (>18thn) mereka secara langsung bertanggung jawab pada Allah, maka semakin kamu berusaha untuk mengontrol mereka.

Tell them what to do ‘pray pray pray’ >> The farther they will run from the prayer.

2 level relationship ortu-anak (semakin dewasa) >>

1. Spiritual relationship
2. Emotional relationship (just be mom or dad…just be a parent)

Itu 2 hubungan yang berbeda & harus dipisahkan.

Saat anak Anda sudah dewasa, yang paling utama adalah menjaga hubungan emosional pada anak bukan spiritual (seperti seorang da’i/syekh yang terus-terusan menceramahinya), karena tantangan zaman sekarang anak-anak (yang sudah remaja, beranjak dewasa) terkadang malah menolak mentah-mentah ketika ‘disuruh’ ortunya untuk beribadah, menonton ceramah…

Maka jika kita merasa anak kita ‘out of control’ >>

Teruslah berdo’a pada Allah agar anak-anak kita diberikan kemudahan untuk mendekat pada-Nya. Bersabarlah seperti yang nabi Yaqub contohkan ketika diberi kabar bahwa nabi Yusuf meninggal (demonstrate beautiful patience, keep smile, maintain the emotional relationship, just be a parent).

Kemudian sebagai ortu bisa meneladani Luqman, mencari waktu yang tepat untuk berbicara pada anaknya (strategi). Be wiser parent.

Semoga Allah melembutkan hati kita dan anak-anak kita untuk semakin dekat pada-Nya.

Resume Mendidik Generasi Peradaban – Ust. Adriano Rusfi & Resume Menemukan Peran Peradaban
Puncak Pendidikan Peran Peradaban – Kang M. Firman dapat dibaca pula di:

http://mirantibanyu.blogspot.co.id/…/mendidik-generasi-memb…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>