Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Muhasabah

Memandikan Jenazah (Peringatan: Tidak untuk Dibaca Semua Orang)

Memandikan Jenazah (Peringatan: Tidak untuk Dibaca Semua Orang)

Saya masih ingat, ketika pertama kalinya dalam masa 6 tahun menjadi Imam di Masjid Abu Bakr di New Orleans, saya harus mengurus dan memandikan jenazah. Itu bukan pertama kali saya berpartisipasi, tapi pertama kali saya harus memimpinnya.

Saudara muslim yang meninggal itu adalah seorang imigran dari Nigeria yang ditemukan di dalam apartemennya, 8 hari setelah kematiannya, tanpa sebab yang diketahui. Dia hanya sebatang kara di negeri ini, tanpa memiliki satu pun keluarga maupun teman dekat. Ketika melangkahkan kaki menuju ruangan untuk memandikannya, aroma tidak sedap dari tubuhnya yang hampir membusuk, membuat saya muntah dan hampir pingsan. Butuh sekitar setengah jam untuk saya hingga bisa kembali ke ruangan dan memulai lagi.

Seiring kami memandikannya, saya tidak bisa menahan diri untuk merenung, tentang hakikat perjalanan hidup ini. Jenazah ini sebelumnya mewadahi suatu jiwa, yang memiliki impian dan perasaan. Jiwa yang pastinya mendambakan hal-hal yang kebanyakan kita dambakan. Tapi jiwa itu sekarang sudah pergi ke suatu tempat lain, dan wadah duniawi (jenazah) ini telah ditinggalkannya, untuk tinggal dalam kondisi yang hanya sesuai dengan realitas materi.

Pada masa 6 tahun selanjutnya, saya secara rutin harus menjadi bagian dari pengurusan pemandian jenazah ini. Saya merasa kondisi hati dan cara saya memandang hal ini, terus tumbuh di setiap jenazah yang harus saya mandikan.

Kadang jenazah itu adalah seorang bayi, impian orang tuanya. Kadang seorang sahabat dekat, dengan tawa dan kebersamaan yang pernah saya nikmati. Kadang seseorang yang tidak dikenal, dengan badan tak bernyawa yang telah meninggalkan kehidupannya, dan saya hanya bisa menduga-duga apa yang telah ditinggalkannya.

Kadang jenazah itu adalah badan yang sudah hancur karena kecelakaan lalu lintas, kadang badan yang kering karena kanker atau penyakit sejenis, kadang badan yang kondisinya begitu baik sehingga seperti hanya melihat seseorang yang sedang tertidur. Tapi, di setiap momen itu, pemahaman tentang realitas kematian semakin kokoh.

Sekarang saya tidak memandikan jenazah sesering yang pernah saya lakukan sebelumnya, tetapi saya tidak memerlukan itu lagi, karena hanya perlu merenungi kondisi keduniawian saya sendiri, untuk mengingat betapa tak mungkin dihindarinya sebuah kematian.

Janganlah fokus kita terbagi dan terganggu oleh daya tarik dunia, karena jika iya, kita akan tenggelam di dalamnya. Fokuslah untuk memperbaiki masa depan yang tak terelakkan dan tak terhindarkan, bukan kepada kondisi saat ini yang berada di luar kontrol kita. Fokuslah untuk sebuah interview dengan Dzat Yang tidak memerlukan resume, bukan kepada penilaian seseorang yang kelak akan menjadi jenazah seperti diri kita sendiri.

Kita semua adalah jiwa yang memiliki badan, bukan badan yang memiliki jiwa.

Sumber: Facebook Omar Suleiman

Washing The Dead (Warning: Not For Everyone To Read):I remember the first time in my 6 year term as Imam in Masjid Abu…

Dikirim oleh Omar Suleiman pada 16 Oktober 2017

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>