Pasang iklan ?
info@nakindonesia.com
Bahasa Arab

Gems: Alhamdulilah

Gems: Alhamdulilah

Suplemen: Serba-serbi الحَمْدُ لِلّهِ

Pada pelajaran sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa kalimat dalam Bahasa Arab dibentuk dari 3 hal, fi’il, ism, dan harf. Kali ini kita akan membahas implementasi dari ilmu yang kita dapatkan ke dalam frase  الحَمْدُ لِلّهِ.

Mengapa الحَمْدُ لِلّهِ (segala pujian untuk Allah) dipilih oleh Allah sebagai ungkapan untuk menyampaikan pujian kepada-Nya dalam bentuk ism, bukan dalam bentuk fi’il, semisal نَحْمَدُ اللّهَ (kami memuji Allah)?

Fi’il dalam Bahasa Arab terdiri dari 3 unsur pembentuk, kata kerja, pelaku, dan dimensi waktu. Saat kita mengatakan نَحْمَدُ اللّهَ , makaنَحْمَدُ ditopang oleh 3 unsur tersebut. “Memuji” sebagai kata kerja, “kami” sebagai pelaku, dan “saat ini” sebagai dimensi waktu.

Saat sesuatu diungkapkan dengan ism dan bukan dengan fi’il, maka sesuatu tersebut terlepas dari unsur pelaku dan dimensi waktu. Yang artinya, pujian bagi Allah berlangsung terus menerus/kontinu (istimrar), baik di masa lalu, masa kini, dan masa depan serta tidak bergantung kepada pelaku.

Makna dari melepaskan ketergantungan dari pelaku ialah Allah tidak bergantung pada makhluk tertentu untuk memuji-Nya. Jika manusia enggan memuji Allah, maka masih ada makhluk-makhluk lain yang akan bertahmid, seperti malaikat, hewan, dan tumbuhan. Jika tidak ada satu pun makhluk yang memuji, pujian Allah pun masih akan ada hingga kapan pun. Subhanallah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>